Kamis, 02 Maret 2017

SPRING TIME PART 2



CHAPTER 3 : PENERBANGAN MEMUAKKAN
***
Setibanya di Bandara lagi-lagi mereka terlalu awal, jam keberangkatan mulai pukul 07.00 AM sedangkan mereka tiba di bandara pukul 06.30AM.
"Apakah kita harus menunggu tiga puluh menit ?." Tanya Yuya yang paling tidak suka menunggu.
"Ano, ada yang kurang." Pikir Yamada, reflek semuanya menatap Yamada was-was.
"Jika kita sampai disana... Kita akan menginap dimana ?."
Ngek.
Yang lainnya pun berpikir dan mengingat perkataan Ibu Kepala Sekolah mereka dan Ibu Kepala Sekolah mereka tidak memberitahukan dimana mereka akan tinggal selama setahun.
Bayangkan saja, ada yang menepuk jidat, cengo, pandangan kosong, berpikir keras, mereka was-was seperti orang hilang.
"Moshi-moshi, Okaasan."
Semuanya pun menatap sumber suara dan ternyata di dapati Chinen menelpon Ibu Kepala Sekolah.
"Ah, Chinen, gomen ne Okaasan lupa memberitahukan kalian akan menginap dimana. Okaasan beritahu, kalian akan menginap di Park Villa tidak jauh dengan Universitas Harvard, Okaasan yakin salah satu dari kalian tahu, tiketnya jangan lupa, ya, semoga selamat sampai tujuan!."
Tuttt...
"Chii-san, kau dapat nomor kepala sekolah darimana ?." Tanya Inoo.
"Apa katanya ?." Tanya Yamada.
"Kita akan menginap di Park Villa, katanya salah satu dari ki—"
Belum juga Chinen selesai melanjutkan kata-katanya Keito sedikit berteriak dengan antusias.
"Nani ?!, Park Villa ?!, kau serius ?!." Tanya Keito yang sedikit meninggikan suaranya, memang bandara sedikit ramai, untung saja di sekitar mereka tidak banyak orang yang lewat.
"Kau tahu ?." Tanya Chinen.
"Tentu. Hanya orang konglomerat kelas atas yang mampu membayar uang sewanya." Jawab Keito sangat antusias.
"Kita berhutang budi banyak pada sekolah." Chinen sedikit merenung.
"Sepertinya kau pengalaman sekali pergi ke luar negeri terutama London ?." Selidik Yuto yang berada di samping Keito.
"Ya, sudah dua—"
"Baik. Kau pandu kami, kau yang di depan, dan kau yang akan berbicara bahasa Inggris untuk kita." Potong Yamada santai dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
"He?!, nani ?!, chotto matte.." Keito sedikit terkejut dan bingung melihat semua temannya sangat santai menunggu jam penerbangan seakan mereka sudah punya pemandu wisata yang sangat handal dan tidak akan cemas akan kemana-mana.
"Kau tahu kan pelajaran Inggrisku mendapat berapa ?, jadi, bantu kami." Ujar Yuya yang hanya melirik Keito.
"Yah, terserah kalian, aku bisa meninggalkan kalian diam-diam dan pergi ke Hotel sendirian." Jawab Keito santai tidak mau kalah. Dan mereka semua menatap Keito dengan pandangan 'jangan coba-coba'.
"Jam penerbangan pukul tujuh dengan tujuan -------- akan tiba, penumpang di harapkan mempersiapkan diri."
Terdengar bunyi megaphone dari seluruh bandara, dan mereka bersembilan lalu bersiap-siap.
"Kita satu kabin, bukan ?. Siapa yang sebangku denganku ?, aku nomor sembilan." Tanya Keito.
"Kau denganku, aku nomor sepuluh." Ujar Yuto.
"Aku lima. Siapa enam ?." Tanya Yabu.
"Aku enam." Jawab Inoo cepat.
"Ah, Ryo-chan, kau delapan rupanya, kau berarti denganku, aku tujuh." Ujar Hikaru dengan merangkul pundak Yamada.
"Ah, iya."
"Yeah, bung, kita satu bangku." Ujar Daiki seraya mengajak Yuya seperti tos tangan. Bayangkan saja Daiki yang kecil satu bangku dengan kacang panjang.
"Chinen, berarti kau sendirian ?." Tanya Yamada sedikit kasihan dengan teman dekatnya itu.
"Tak apa, yang penting selamat sampai tujuan." Jawab Chinen seraya merapikan barang-barangnya tanpa melihat Yamada.
"Dia kenapa, sih ?." Tanya Hikaru berbisik kepada Yamada dan hanya dijawab gelengan kepala.
"Dia tidak sedang sakit, kan ?." Tanya Inoo juga sedikit berbisik ke Yabu.
"Mungkin butuh belaian." Jawab Yabu santai dan mendapat getokan kepala dari Inoo.
"Chotto, tapi kita tetap satu kabin, bukan ?." Tanya Keito yang sedikit ragu mereka akan pisah kabin walau kebetulan nomor mereka pas.
"Tentu tidak, sayang, sudahlah, ayo kita naik." Jawab Yuya yang sedikit jengkel daritadi Keito gelisah hanya menanyakan kabin. Lalu mereka mulai menyimpan barang-barang mereka ke(mana dah author nggak tau -_- yang kek escalator gitu di cek satu-satu(?)). Lalu mereka mencari kabin yang sesuai dan duduk sesuai nomor.
Saat penerbangan mulai berjalan, baru saja pesawat melintas ke udara, salah satu dari mereka mabuk udara.
"Tidur saja, Dai-chan, jika kau ingin memesan makanan akan ku pesankan pada pramugari." Usul Yuya dan hanya di jawab anggukan kepala.
Yamada yang mengetahui Chinen duduk sebangku dengan seorang perempuan yang sebaya dengannya mulai berbisik pada Hikaru dan menyalur pada Yabu dilanjut Inoo hingga titik terakhir, Daiki yang tertidur. Terlihat Chinen mulai sedikit berbicara pada sebelahnya agar tidak merasakan kecanggungan selama penerbangan.
"Ah, ano, boleh kenalan ?." Tanya seorang perempuan di sebelah Chinen.
"Ah, tentu." Jawab Chinen santai.
"Watashi wa Rowenna Goldstein, yoroshiku."
"Chinen Yuri, yoroshiku."
Lalu mereka mulai berjabat tangan untuk pertama kalinya.
"Kulihat kau bukan orang Jepang, ya ?, dari namamu." Tanya Chinen.
"Bukan. Aku berasal dari Inggris, tapi kebetulan sedang liburan jadi aku pergi ke Jepang untuk pertama kalinya." Jawab perempuan itu yang dikiranya bernama Rowenna menatap senyum ke arah Chinen, dan Chinen hanya sedikit salah tingkah, dia manis sekali.
"Sendirian ?." Tanya Chii.
"Iya, sebenarnya aku dengan kakakku tetapi kakakku sedang di rawat di Rumah Sakit jadinya aku berangkat sendiri, sayang sekali, kan kalau aku juga tidak ikut, sebenarnya bangku yang kamu duduki itu untuk kakakku tapi ku batalkan ternyata kau yang mendapatkannya." Jawab Rowenna dengan ramah.
"Ah.. Ya.. Sepertinya kau ada kesalahan berbahasa Jepang, saat kau berbicara tadi." Jawab Chinen.
"Seriously ?, sorry, I will speak with my country language." Jawab Rowenna yang sedikit salah tingkah mengingat ia tidak sepenuhnya bisa berbahsa Jepang.
"Ah, no problem, kau sudah termasuk pandai dalam berbicara seperti itu pada orang Jepang asli." Ujar Chinen ditambah dengan senyuman, tunggu, sejak dari tadi pagi dia selalu memasang muka dingin, ada apa ini ?.
"Kau ternyata bisa berbahasa Inggris." Sambung Rowenna.
"Tidak juga, Rowenna."
"Ah, sepertinya namaku terlalu panjang, panggil saja Enna, seperti adikku memanggilku." Ujar Rowenna lagi-lagi menyunggingkan senyumannya.
"Ehem.. Ohokkk... Hikaru-san, kau membawa minum ?, ah tentu saja tidak, tolong pesankan aku minuman."
"Oke oke tenang dulu Ryo-chan" Jawab Hikaru lalu memesankan minuman.
Terdengar suara batuk yang dibuat-dibuat dari seberang tempat duduk Chinen dan ternyata Yamada yang berpura-pura batuk untuk memancing temannya itu.
"Mereka gila." Ujar Yabu dengan menyilakan tangannya di depan dada melihat drama gratis di depannya, bangkunya dengan Inoo berada di belakang bangku Yama dan Hikka dan berada di sebelah kanan.
"Aku tidak ikut-ikuttan." Sambung Inoo yang melihat kota dari bawah dan dari jendela dengan gumpalan awan yang ada.
"Uhuyy.. Drama gratis." Ujar Keito dengan kedua tangannya menyila ke belakang menyangga kepalanya dan menatap kursi di depannya.
"Berisik, lagi makan, nih." Sambung Yuya yang sangat tidak peduli ada drama atau film komedi atau sirkus di depannya, dia hanya konsentrasi pada makanan.
"Ahh~ seperti di film-film." Sambung Yuto dengan kepalanya di sangga pada telapak tangan kanannya menatap kemana saja asal tidak menatap tempat duduk Chinen dengan seorang perempuan di sebelahnya.
Chinen yang mendengar ocehan teman-temannya sedikit risih akan suasana sekarang.
"Mereka teman-temanmu ?." Tanya Rowenna yang menyadari jika mereka teman-teman Chinen.
"Bukan, mereka orang gila yang hanya syirik pada keadaan." Jawab Chinen santai lalu mulai memesan makanan seperti halnya Yuya. Dan teman-teman Chinen yang di kata seperti itu hanya melirik sinis dan mulai mengeyahkan apa yang Chinen dan Rowenna lakukan.
"Kau tidak memesan makanan ?." Tanya Chinen yang sudah disuguhkan beberapa dessert yang ia pesan.
"Ah, iya, aku juga pesankan aku sama seperti dia." Jawab Rowenna.
"Kenapa ?." Tanya Chinen.
"Yang penting makan." Jawab Rowenna, lalu mereka berdua tersenyum bersama.
"Yaelah, bung, tadi sama kita memasang muka dingin, uhh seperti suhu pagi hari ini..." Ujar Yamada yang juga sudah berkutat pada makanan.
"Setelah ketemu yang ehem.." Lanjut Hikaru.
"Eh, sumringah, bahagia sekali, ya." Lanjut Keito.
"Urusai." Celetuk Chinen, lalu di dapati mereka semua cekikian menahan tawa termasuk Yabu dan Inoo yang tidak ikut-ikuttan.

***
CHAPTER 4  : WELCOME TO LONDON


Dalam perjalanan, mereka sudah mabuk kepayah dan setelah makan mereka mulai tidur untuk menghilangkan rasa mabuk yang ada, di saat semua sedang tidur hanya Daiki lah yang terbangun.

“Yah.. Aku tidur, mereka bangun, aku bangun, mereka tidur, ini kenapa, sih ?.” Ujar Daiki yang sedikit berdiri untuk melihat teman-temannya yang sudah terlelap semuanya, namun, pandangan Daiki fokus pada kursi depannya.

“Chinen ?, siapa perempuan itu dengan santainya tidur di bahu Chii ?.” Gumam Daiki melihat Chii dan perempuan sebangkunya.

“Bodo ah, ano, sumimasen.. Boleh saya pesan sesuatu ?.”

Sesampainya di bandara tujuan saat mereka turun dari pesawat mereka sedikit merenggangkan badannya yang pegal-pegal akibat duduk terlalu lama di dalam pesawat. Chinen sudah berpamitan dengan teman sebangkunya yang katanya sudah di jemput oleh keluarganya.

“Chii-san, aku melihat sebelahmu dengan santainya tidur di bahumu, kau menegnalnya ?, siapa ?.” Tanya Daiki yang melihat Chinen menguap lebar dengan tidak sopannya.

“Hontou ?!, nee, Dai-chan seharusnya kau mengambil foto untuk itu dan menunjukkannya pada kami.” Ujar Yuya terkejut, bukan Yuya, tapi semuanya mendengar pertanyaan Daiki.

“Kau bodoh ?, sinting ?, atau apa ?, memangnya boleh menghidupkan barang elektronik di dalam pesawat ?.” Tanya Daiki sedikit kesal melihat kebodohan temannya itu.

“Ah, yah, souka.” Jawab Yuya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Dia perempuan, perempuan harus di hargai bahkan jika kau melihat seorang perempuan mengantuk dan ingin tidur tapi tidak nyaman apakah kau tidak menawarinya tidur di bahumu ?.” Tanya Chinen kembali, pedas.

“Ini anak daritadi pagi kenapa, sih ?.” Gumam Yabu pada Inoo yang hanya di tanggapi gelengan kepala.

“Jaa, ayo komandan!, kau yang depan!.” Ujar Yamada menepuk pundak Keito agar dia yang memimpin perjalanan menuju penginapan.

Lalu mereka mulai keluar dari bandara, daripada membuang-buang waktu dan biaya menaiki bus umum bolak-balik mereka memilih menaiki taxi agar cepat sampai tujuan. Lalu mereka memesan tiga buah taxi.

Dalam perjalanan ternyata tidak di sangka memakan waktu yang sedikit lama, kurang lebih empat puluh lima menit sampai tujuan.

Sesampainya di gerbang Villa yang sudah di sediakan dari sekolah, mereka turun dan sedikit takjub akan keadaan Villa yang begitu luas, sangat luas. Saat mereka masuk mereka di suguhkan kanan-kiri sebuah taman asri, banyak rumput yang sekiranya di potong indah dan pot bunga lainnya.

Untuk sampai di pintu utama mereka harus mengitari air pancuran yang berada di tengah lalu sampai di depan gerbang. Yamada yang membawa kunci Villa lalu membukanya reaksi dari mereka hanyalah cengo akan suasana Villa yang akan mereka huni.



“Serasa di Kerajaan.” Ujar Daiki.

“Seperti Keluarga kerajaan saja.” Sambung Hikaru.

“Mimpi kalian.” Jawab Yuto singkat se-singkat-singkatnya.

Lalu mereka mulai masuk dan tidak terlalu jauh terdapat banyak sofa dengan di hadapannya sebuah TV besar dan meja yang juga lumayan besar.

“Ini sekolah buat sendiri atau menyewa ?.” Tanya Yamada yang juga sangat takjub melihatnya.

Setelah sepenuhnya nyawa mereka terkumpul dan sudah selesai memandangi yang ada mereka lalu menaiki tangga dekat dengan pintu utama, tangga itu seperti membentuk setengah lingkaran hingga sampai pada ruang yang berisi kamar berhadapan.

Lalu mereka mulai menuju kamar, membuka kunci yang sudah beliau berikan yang memang sudah di bagi daripada berebutan. Kamar mereka lumayan luas untuk ukuran anak pecinta musik seperti Inoo.

“Wuh, ada keyboard disini.” Uja Inoo terkejut melihat kamarnya yang ternyata terdapat keyboard.

“Aku ada gitar.” Ujar Hikaru.

“Aku juga.” Sambung Keito.

“Sebenarnya kita sedang pergi ke luar negeri untuk belajar atau liburan, sih ?.” Tanya Daiki bingung yang sedang berjalan mondar-mandir di luar melihat kamar teman-temannya satu per satu.

“Anggap saja sekolah luar negeri serasa liburan.” Jawab Yuto.

“WOAHH..!! DISINI ADA KOLAM RENANG..!!.” Teriak seseorang dari lantai bawah halaman belakang yang sukses membuat teman-temannya lari cepat menuju ke bawah untuk mengobati rasa penasaran mereka.

“Bisakah kau hilangkan keidiotanmu ?.” Tanya Yamada menghampiri Daiki yang sedikit kesal karena Daiki teriak-teriak dari bawah hanya kolam renang yang besar.

“Aku mau mandi dulu, besok harus bersiap-siap ke sekolah baru.” Ujar Inoo merasa lelah akan perjalanan 3 jam lebih mereka.

“Aku juga.” Sambung Yabu.

Lalu mereka semua juga mengikuti dan istirahat di kamar masing-masing.

Lalu mereka bangun pada sore hari, hebat. Dan salah satu yang bangun awal dari yang lainnya adalah Chinen.

“Hm.. Lapar..” Gumamnya, lalu ia turun dan menuju dapur yang tepat di belakang ruang tengah.

Mengingat tidak ada bahan-bahan untuk memasak, Chii melihat beberapa sebungkus roti tawar dan beberapa selai untuk cemilan, lalu ia mulai memakan seadanya. Di tengah-tengah makan, Yamada datang dengan muka kusutnya.

“Apa kau tidak cuci muka ?. Bangun-bangun sudah ke dapur.” Tanya Chii geli melihat wajah Yamada.

“Belum, aku cuci muka di dapur saja, bertepatan ada kau.” Jawabnya enteng.

“Sepertinya malam ini kita harus ke pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan makanan di Villa.” Usul Chinen yang di jawab anggukan Yama.

Chinen mengeluarkan tas kresek yang berisi roti untuk mengganjal perut saat lapar untuk sementara waktu. Kere memang.

“Hanya roti ?.” Tanya Yamada bingung.

“Menurutmu ?.” Tanya Chinen balik.

“Kukira ada masakan enak di Villa yang mewah ini.” Jawab Yamada dengan santainya.

“Kalau ada makanan, sudah kumakan daritadi.” Sambung Chii.

“Mungkin saja kau rakus memakan semuanya dengan cepat.” Jawab Yamada tidak mau kalah.

“Cih,”

Malam harinya, hanya Chinen, Yamada, Keito, dan Inoo yang pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli makanan dan alat-alat di Villa yang belum ada, beliau sudah menitipkan beberapa uang untuk keperluan seperti ini. Kenapa hanya mereka berempat, karena hanya mereka yang fasih berbahasa Inggris dan yang lainnya jaga Villa atau persiapan buat besok.

Mereka pulang sedikit larut karena bingung harus membeli bahan-bahan apa saja, untung mereka bersama Keito yang sedikit berpengalaman, dan untungnya lagi mereka sudah persiapan kilat untuk besok sehingga sampai rumah mereka tinggal istirahat dengan nyaman.

“Kalian tahu, kita memesan pizza delivery order gara-gara kalian kelamaan membeli bahan-bahan. Kita sampai buka google translate dan kamus yang sudah dibawa.” Protes Yuya melihat mereka berempat datang sedikit larut.

“Beli apa saja ?, jangan boros, deh, belanja saja tiga setengah jam.” Protes Yuto juga.
“Gomen nee, kami juga bingung memilih bahan-bahan apa saja untuk keperluan sehari-hari, karena ini bukan di Jepang.” Jawab Yamada sedikit kasihan melihat mereka duduk di sofa dengan memesan dua buah box pizza yang dilihat dari kejauhan sudah habis.

“Yah, terserah, tapi gomen, pizzanya sudah habis.” Ujar Yuya.
“Tak apa, kami sudah makan yang sederhana di luar.” Jawab Chinen.
Keesokan harinya, mereka sudah siap-siap untuk ke sekolah baru mereka. Mereka satu sekolah agar mudah berkomunikasi dan belajar apa yang diajar.

Mereka ke sekolah tidak terlalu jauh, jika jalan dalam keadaan sepi dan lancer hanya memakan waktu sepuluh menit. Sesampainya di sekolah yang terkenal dengan murid-muridnya yang cantik dan tampan dan juga sangat pintar, pusat sekolah yang berada di London.

Mereka turun dari bus, ya, mereka naik bus sekolah saja yang dikiranya lebih hemat biaya daripada taxi, sudah disambut dengan seluruh anak perempuan yang berhenti berjalan dan cengo dan juga berbisik satu sama lain melihat kesembilan cowok itu.

“Are they transfer student ?.”

“I think so.”

“Are they from England ?, I don’t think so.”

Baru masuk sudah populer, luar negeri, dalam negeri sama aja.

Tapi, diantara ribuan siswi disana salah satu dari mereka ada yang sedikit kenal dengan mereka bersembilan.

Mereka bukannya tidak peduli dengan cewek-cewek sekitar hanya saja mereka bingung tatapan mereka dan baru saja masuk di suguhi seperti itu, lalu mereka pergi ke ruang kepala sekolah. Mereka yang tidak terlalu bisa bahasa Inggris hanya berharap sepenuhnya pads Yama, Inoo, Keito, dan Chii.

Sesampainya di ruang kepala sekolah mereka duduk dengan canggung apalagi yang tidak terlalu bisa bahasa Inggris.

“Ohayou, dear.” Jawab beliau, kepala sekolah.

Dan mereka di buat bingung oleh beliau.

“Ah, tentu Otousan sedikit lancer bahasa di Negara kalian. Jaa, akan ku sebutkan kelas kalian, Otousan sekali lagi minta maaf kalian berada di kelas yang berbeda mungkin ada yang satu kelas,” Terang beliau dengan menggunakan bahasa Jepang.

“Yabu Kouta.”

“Hai,”

“Kau di kelas 2-2.”

“Arigatou, sensei.”

“Kei Inoo.”

“Hai.”

“Kau paling pintar diantara yang lainnya, kau masuk 2-1.”

“Thanks you, mister.”

Lalu mereka semua memandang Inoo yang memakai bahasa Inggris.

“Kau sepertinya fasih berbahasa Inggris, nak ?.” Tanya beliau.

“Ah, not all, mister.” Jawabnya.

“Yuri Chinen dan Yuto Nakajima.”

“Hai.” Jawab mereka bersama.

“Kalian masuk 2-5.”

“Arigatou, senpai.”

“Ryosuke Yamada, Okamoto Keito, Yaotome Hikaru.”

“Hai.” Jawab mereka bersama.

“Kalian di ruang 2-7.”

“Arigatou, senpai.”

“Yuya Takaki dan Daiki Arioka.”

“Hai.” Jawab mereka bersama.

“Kalian di ruang 2-3.”

“Arigatou, sensei.” Jawab merek bersama.

“Nah, wali kelas kalian sudah tahu, sekarang, ku panggilkan guru jam pelajaran pertama, ano, untuk kelas 2-5 jam pelajaran kalian olahraga, apakah sudah membawa pakaian ganti ?.” Tanya beliau dan di jawab anggukan mereka berdua.

“Chotto matte, ku panggilkan guru kalian.” Ujar beliau berdiri dari duduknya dan pergi ke ruang guru.

***


Yaaa Minna-san!, Arichan mau kasih info nih, spring time karya fanfiction pertamanya Arichan. Gomennn kalau ceritanya acak-acakan, gajelas, atau gimana ini Arichan langsung copast dari Wattpadnya Arichan, sebagian Arichan perbaiki karena ada kesalahan, maapkan Arichan kalau masih ada kesalahan T^T

Oh iya, Arichan Insyallah nih post setiap hari terutama malam minggu //ketahuanjoneslu\\ :'v Arichan kalau ngepostnya lama lebih dari seminggu berarti ceritanya di Wattpadnya Arichan juga lagi nggantung alias Arachan sibuk belum sempet buat ceritanya :'v soalnya bentar lagi Arichan bakal ngerjain UTS II nih.. Habis itu study tour.

Intinya aja, Arichan ngepost spring time dulu, lainnya nyusul, sebenernya masih ada satu konsep lagi tapi Arichan hapus gegara konfliknya rada anu //bletakkk. Arichan ngepost langsung dua chapter ya soalnya kalo satu chapter kependekan :v.

Sekian infonya nanti Arichan kasih info lagi :v pai pai~~
Happy Reading~

-Arichan-

Rabu, 01 Maret 2017

SPRING TIME PART 1



SPRING TIME
CAST:
-MEMBER HEY! SAY! JUMP
-HARUNA GOLDSTEIN (OC)
-ROWENNA GOLDSTEIN (OC)
-REINA HINAMORI (OC)
-OTHERS CARA

BAHASA    : CAMPUR


PROLOG       :

            Di musim semi, dimana di negeri sakura ini menjatuhkan bunganya dengan anggunnya membuat jalanan, kota-kota, dari ketinggian lebih dari seribu kaki akan terlihat indah dan berwarna pink cerah. Tidak dengan seorang anak laki-laki yang menunduk menatap gundukan tanah yang terlihat cantik akibat bunga sakura yang berguguran.

Musim ini, musim yang paling di tunggu kalangan anak remaja atau semua orang karena dapat melihat bunga sakura yang bermekaran indah, tidak untuk anak laki-laki itu.

Dia menatap nisan yang dulunya adalah seorang teman, hanya teman, karena kenyamanan yang mereka berdua berikan, buih-buih cinta itu muncul, mereka menjalaninya dengan antusias.

Namanya juga takdir, setelah kita merasakan kebahagiaan pasti juga ada kesedihan. Tapi ini takdir, takdir tidak membawa mereka bersama. Hanya dipertemukan untuk mengungkap siapa mereka sebenarnya, ada hubungan apa dengan diri mereka berdua, saling menyembuhkan luka masa lalu, setelah itu kita diajarkan cara berikhlas.
Aishiteru yo.

Hanya dua kata itu yang mencerminkan perasaan anak laki-laki itu, sedih, kecewa, berat hati, sangat. Kemudian ia memutar kembali memori-memori yang sudah ia tata rapi di gudang dan mengingat dari nol sampai akhir.

“Kau adalah bunga sakuraku. Dimana saat bunga itu lahir sampai ia jatuh dari pohonnya selalu memberikan kebahagiaan orang-orang, selalu terlihat cerah dan bahagia, selalu terlihat terang diantara bunga-bunga lainnya. Sampai kau gugur dan terjatuh warnamu masih ada sampai musim itu berakhir. Disini, di Musim Semi.”



***

CHAPTER      1          :  PENGUMUMAN MENGEJUTKAN


“Uh, Nani ?.”

Yamada yang sedang membaca buku di kelas yang sudah waktunya istirahat masih sempat-sempatnya membaca buku untuk pelajaran selanjutnya kebingungan melihat temannya itu memanggil namanya dengan terburu-buru dan di tambah dengan lari-lari seperti orang kesetanan.

“Kau harus lihat ini!.” Paksa teman Yamada yang tingginya di bawah kata ‘normal’ karena untuk seumurannya biasanya sekitar 160 keatas sedangkan dia mungkin masih 155 keatas sedikit.

“Chotto matte…”

“Sudah ayo, kau terlalu pintar untuk membaca buku ke lima puluh tiga kalinya.” Kata cowok itu yang tidak sabar menarik tangan Yamada.

“Kau menghitungnya ?.” Tanya Yamada santai.

“Sudahlah ayo, Aku bisa gila melihatmu membaca buku terus menerus.” Ujarnya sukses menarik tangan Yamada keluar kelas dan menuju papan pengumuman yang sudah ada beberapa teman Yamada disana yang melihatnya.

“Nani ?, kenapa kalian disini ?, ada apa ?.” Tanya Yamada heran melihat ke tujuh temannya sudah disana terlebih dahulu.

“Lihatlah ini.” Tunjuk cowok lainnya dengan jari telunjuknya mengarah pada selembar kertas HVS A4 yang berisi

PENGUMUMAN

DIBERITAHUKAN KEPADA MURID YANG TERCANTUM NAMANYA DI BAWAH INI HARAP MENEMUI KEPALA SEKOLAH DI KOUCHOUSHITSU SAAT ISTIRAHAT:

1.     CHINEN YURI
2.     DAIKI ARIOKA
3.     HIKARU YAOTOME
4.     KEI INOO
5.     KEITO OKAMOTO
6.     RYOSUKE YAMADA
7.     YABU KOUTA
8.     YUTO NAKAJIMA
9.     YUYA TAKAKI

TERIMAKASIH.

“Imi desuka ?.” Tanya cowok lainnya yang berpostur lebih tinggi dan lebih tua dari yang lainnya.

“Jaa, ke ruang kepala sekolah.” Ajak Yamada tanpa basa-basi lalu mereka mengikutinya dari belakang.

Saat menuju ke ruang kepala sekolah banyak murid-murid cewek yang melihat mereka berjalan dengan tatapan khas fans tanpa berkedip sekalipun. Mereka memang center dari sekolah, wajar saja jika seluruh sekolah tahu akan kepintaran dan kekakkoian mereka.

“Ano, sumimasen ?.” Jawab Yamada pertama saat memasuki ruang kepala sekolah.
“Ah, haitte kimasu.”

Lalu mereka bersembilan masuk dan duduk dengan kalem tanpa gerak sedikitpun diatas sofa ruangan itu.

“Ah, jangan canggung anak-anakku. Okaasan hanya ingin menyampaikan berita besar untuk kalian.” Ujar ibu kepala sekolah tersenyum sumringah menatap mereka besembilan satu-satu. Dan mereka semua saling pandang, bingung akan maksud dari Ibu kepala sekolahnya itu.

“Kalian akan ku kirim ke luar negeri untuk melanjutkan satu tahun bersekolah disana. Sekalian kalian bisa refreshing sejenak dengan kota ini, bukan ?. Atau.. Mencari pasangan, hahahaa… Oke, lanjut ke topik,”

Semua anak yang di panggil tadi reflek cengo melihat reaksi Ibu Kepala Sekolahnya yang sepertinya sedikit over bahagia hari ini.

“Kalian akan ku kirim ke luar negeri, lebih tepatnya England, London. Kalian akan sekolah di SMA ternama, selama satu tahun saja, tidak usah lama-lama, orang tua kalian sudah saya kirimkan surat persetujuan ijin tanpa kalian ketahui dan mereka sangat antusias. Ibu juga selalu memantau nilai-nilai kalian dan akan di setorkan kepada Ibu selama satu tahun apakah studi kalian lanacar atau tidak. Nah, hanya itu saja, kalian bisa berangkat mulai besok. Jam penerbangan jam tujuh pagi. Semua biaya sudah di tanggung sekolah.” Terang Ibu Kepala Sekolahnya itu secara detail kepada mereka, dan respon mereka masih sama, bingung dan cengo.

Mereka memang senang bisa dikirim ke luar negeri apalagi center dunia yang bahasanya selalu di pakai di seluruh dunia, tapi, apakah harus mendadak seperti ini dan hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam ?. Setelah emuanya mengumpulkan segenap nyawanya, satu-satu dari mereka mulai menanyakan hal.
“Ano, okaasan, kenapa harus kita ?.” Tanya Yamada.

“Karena kalian center dari seluruh sekolah selain kekakkoian kalian juga kepintaran kalian, okaasan juga melihat kau selalu membaca buku di waktu istirahat, nak.” Sepertinya Ibu Kepala Sekolah mereka ini sedikit gaul karena bahasanya yang santai tidak berbelit-belit dan mengikuti zaman.

“Okaasan, salah satu dari kami bodoh dalam hal berbicara bahasa asing terutama bahasa Inggris. Apakah harus ?.” Tanya cowok lainnya berambut coklat gondrong yang sedikit panjang yang di kenal dengan namanya, Yuya.

“Kalian selalu mengikuti kelas Bahasa Inggris, bukan ?, saya harap kalian tidak membolos waktu pelajaran itu. Itu sangat mudah, kalian tahu. Kalau begitu, bawalah kamus Jepang ke Inggris untuk mengartikannya.” Jawab Ibu Kepala Sekolah dengan santainya.

“Okaasan, lalu biaya untuk makan, perlengkapan sekolah ?, bagaimana ?.” Tanya cowok paling pendek diantara mereka yang terkenal dengan namanya, Chinen.
“Tadi okaasan sudah mengatakan, bukan ?, biaya sekolah di tanggung sekolah, jika biaya makan separonya di tanggung sekolah dan sisanya orang tua kalian yang akan menransfer uang kepada kalian,” Jawab Ibu Kepala Sekolah dengan sabar melihat kesembilan anak didiknya itu.

“Kalian pintar-pintar tell me ya ?,” Gurau Ibu Kepala Sekolah yang hanya di balas muka datar mereka.

“Kalian tidak perlu khawatir, laksanakan saja apa yang sekolah tugaskan, passport dan lainnya sudah di urus, ingat satu hal, jangan membuat kekacauan di Negara orang. Ini Negara, nak, bukan kota kita pindah begitu saja.” Lanjut beliau.

“Ah, arigatou gozaimasu, okaasan, sudah di beri kepercayaan kepada sekolah. Kalau begitu kami pergi dulu.” Pamit Yamada dan yang lainnya, belum ada beberapa langkah, beliau mengatakan,
“Pulanglah, bersiaplah untuk besok, jangan tidur kemalaman, okaasan sudah titipkan izin pada seluruh guru untuk tidak mengajar kalian.” Tutup beliau yang sekarang muali berkutat dengan tugasnya.

“Hai, arigatou.”
Setelah keluar ruangan itu, mereka semua mulai memasang wajah terkejut mereka.

This is crazy, man!.” Ujar cowok berparas tinggi berambut pirang dan gigi yang gingsul yang terkenal julukan paling kampret, namanya Hikaru.

“Kau mulai belajar detik ini, eh ?.” Sindir cowok yang lain yang lebih tua dari mereka, Yabu.

“Apakah kita sedang bermimpi ?.” Tanya Yamada yang masih terkejut kejadian tadi.
“Mimpi yang indah, bukan ?.” Jawab cowok lainnya dengan muka sok polosnya, dengan paras yang lumayan tinggi dan rambutnya yang menutupi seluruh jidatnya, dia, Inoo.

Semua yang memikirkan selanjutnya apa yang harus dilakukan mulai mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara barusan dan menatapnya dengan ekspresi menandakan ‘kau gila’.

“Apa ?, kenapa ?, aku benar, kan ?.” Tanya nya yang masih saja sok polos dan sok cute, ya, dia memang cute.

“Rasanya ku ingin menonjok wajah sok cutemu itu.” Jawab cowok paling cool diantara mereka semua, dia, Keito. Dia memang cool, tapi siapa sangka, sifatnya yang seperti hello kitty. Dan Inoo hanya memandangnya bingung.

“Jaa, ayo kita pulang, kita kumpul di depan sekolah saja jam lima pagi, bagaimana ?.” Usul cowok lainnya yang juga kakkoi, manis, dan berparas tinggi, dia Yuto.

“He ?, ah, gomen ?, aku tidak salah dengar, bukan ?.” Jawab cowok yang berparas pendek setelah Chinen, dia, Daiki, sedikit terkejut mendengar usulan Yuto.

“Kenapa, Dai ?. Kau masih tidur, iya bukan ?, bahkan jam enam pagi kau masih tidur bukannya berolahraga untuk menambah tinggi badanmu.” Ledek Yuto, reflek mereka semuamenahan tawa mendengar ledekan Yuto.

“Seharusnya kau berkata seperti itu pada Chinen.” Protes Daiki tidak terima.

“Setidaknya Chinen bertubuh atletis dan selalu berolahraga.” UjarYuto mengalihkan pandangan yang dia tau Daiki memasang muka yang sangat kesal.

“He ?, apa kau bilang ?!.” Protes Daiki. Dan semuanya pun mulai menyembur tawa mereka.

“Sudahlah, ayo kita pulang, kita bertemu jam lima pagi di sekolah, jarak bandara dengan sekolah agak jauh dari sini, bukan ?.” Jawab Yamada menengahi dua orang temannya yang saling meledek.

“Yosh, Jaa nee~.” Jawab mereka semua lalu menuju ke kelas masing-masing dan berpencar pulang.



~~~
.
.
.
.

CHAPTER 2              : KUMPUL

***
Keesokan harinya, di depan sekolah yang masih menunjukkan pukul 04:45 masih sepi dan matahari baru muncul setengah dari setengahnya sehingga masih berwarna jingga. Disana terlihat dua orang mengenakan jaket tebal dan juga syal ditambah koper-koper berisi perlengkapan sehari-hari sudah siap.

“Kita terlalu pagi.” Ujar cowok berparas tinggi daripada sebelahnya yang beda drastic darinya.

“Lebih cepat lebih baik.” Jawabnya yang satu.

Yuto dan Chinen, mereka terlalu pagi untuk berangkat, mengingat semua temannya sangat kebo dan akan bangun mepet sekali jam enam pagi.

“Tapi disini dingin sekali.” Gusar Yuto yang tidak tahan akan dinginnya pagi-pagi seperti ini.

“Uh, tidak, aku merasa seperti berada di kutub selatan.” Jawab Chinen.

“Kau normal ?.” Selidik Yuto melihat Chinen yang sedang memperagakan ‘kepanasan’.

“Menurutmu ?.”

“Tidak.”

“Terimakasih.”

“Ah, Ryo-chan!.”

Dari kejauhan terlihat Yamada sendiri sedang menggeret satu buah koper dan satu tas ransel besar, tidak sebesar tas gunung, besarnya normal untuk orang yang hendak pergi keluar negeri lebih dari satu bulan. Dengan pakaian jaket tidak terlalu tebal dan juga syal.

“Hanya kalian berdua ?, dimana yang lain ?, lima menit lagi sudah jam lima,” Tanya Yamada bingung melihat hanya mereka berdua disana yang sepertinya sudah lama menunggu.

“Sejak kapan kalian menunggu disini ?.” Tanyanya lagi.

“Ya, kami disini, hanya ‘kami’, sejak sepuluh menit yang lalu.” Jawab Yuto lelah karena berdiri terus menerus mengingat suhu udara sangatlah dingin.

“Sugoii, kalian selalu datang lebih cepat. Ngomong-ngomong, suhunya berapa sekarang ?, sangat dingin.” Celetuk Yamada yang juga tidak nyaman akan suhu hari ini.

“Tujuh celcius.” Celetuk Chinen seraya membawa thermometer di tangannya.
“Kau ?, bawa alat thermometer ?, untuk apa ?.” Tanya Yuto heran.

“Menurun thermometer digunakan untuk apa ?.” Tanya Chinen kembali.

“Sepertinya auramu sedingin suhu hari ini, ya, Chii-san ?.” Sindir Yamada.

“Ah!, lihat mereka!.” Tunjuk Yuto di depannya, terdapat Hikaru, Keito, dan Daiki disana, dan.. Anu, ada yang salah.

“Untung kalian tidak menghampiri dua anak ini, asal kalian tahu, sudah berapa kali Keito menabrak tiang listrik dan Daiki tersandung untuk kesekian kalinya, mereka paling malas jika bangun tidur.” Protes Hikaru yang sedang menarik tangan mereka dan mereka hanya menunduk sambil memejamkan matanya.

“Biarkan aku tidur…” Gurau Daiki yang hampir jatuh saking ngantuknya.
“Semalam kalian tidur jam berapa ?.” Tanya Yamada dengan muka bingungnya menatap mereka berdua.

“Aku tidak melihat jam… Tinggal… Tidur saja.” Jawab Keito.

Brukk… Brukk…

“Ittaii… Chinen, apa yang kau lakukan ?.” Tanya Daiki dan Keito bersama, mereka jatuh merintih kesakitan akibat lemparan tas Chinen dan juga tas Yuto yang Chinen ambil.

“Agar kalian bangun, daripada memalukan berjalan dengan zombie.” Sindir Chinen, sepertinya hari ini dia sedikit dingin.

“He?, kau menyamakan kita dengan zombie ?.” Protes Keito tidak terima, mereka sudah berdiri seperti tadi.

“Lihatlah, kalian berjalan dengan kepala menunduk ditambah jalan kalian kesana kemari seperti orang mabuk, terlihat seperti zombie.” Jelas Chinen menatap mereka dengan muka datar, sedangkan Yuto, Yamada, dan Hikaru hanya menahan tawa.
“Chii-san, tadi pagi kau sarapan apa ?.” Selidik Daiki, ada yang tidak beres dengan Chinen hari ini, dia sedikit dingin.

“Kenapa ?.” Tanya Chinen balik menatap Daiki dengan mengerutkan keningnya.

“Ah, itu mereka bertiga, baik, sudah lengkap.” Tunjuk Yuto melihat sisa dari yaitu para trio paling tinggi sedang berjalan menghampiri mereka.

“Inoo-chan, kau memakai bedak dan lipstick ya ?.” Selidik Yamada melihat wajah Inoo lekat-lekat.

“Demi planet Pluto yang tidak dianggap, Inoo-chan, kau ingatkan ?, kau itu bukan wanita ?.” Tanya Hikaru mengerutkan alisnya menatap Inoo lekat-lekat.

“Baka!, aku tidak memakai make up, mungkin aku memang di takdirkan kawaii seperti ini.” Jawab Inoo dengan kedua tangannya membentuk huruf ‘peace’.

“Ehem.. Hem… Sudah lengkap, ayo kita berangkat, lihat, ini sudah jam lima lebih sepuluh.” Ujar Yamada mengalihkan topik pembicaraan, jika di teruskan kau bisa gila dengan Inoo.

Sebelum mereka berangkat, mereka mengecek barang-barang bawaan mereka, di sela-sela itu, Chinen angkat bicara.

“Tidak ada yang mengantuk, kan ?, aku tidak mau berjalan dengan zombie.” Tanya Chinen seraya melihat sekelilingnya yang juga menatap Chii.

“Cih,” celetuk Daiki.

“Yosh, sudah lengkap ?, ayo berangkat.” Kata Yamada dan hanya di tanggapi anggukan pada mereka semua dan mereka lalu berangkat menuju  bandara, sebelumnya mereka menaiki kereta dua kali beberapa menit hingga sampai di bandara.

***

Maapkan Arichan kalo menggaje ceritanya.. Arichan udah sampe sepuluhan chapter cuma ini chapternya Arichan gabung aja biar terkesan panjang (?) ntar lihat konfliknya sendiri deh...

Happy Reading~

-Arichan-