SPRING TIME
CAST:-MEMBER HEY! SAY! JUMP
-HARUNA GOLDSTEIN (OC)
-ROWENNA GOLDSTEIN (OC)
-REINA HINAMORI (OC)
-OTHERS CARA
BAHASA : CAMPUR
PROLOG :
Di musim semi, dimana di negeri
sakura ini menjatuhkan bunganya dengan anggunnya membuat jalanan, kota-kota,
dari ketinggian lebih dari seribu kaki akan terlihat indah dan berwarna pink
cerah. Tidak dengan seorang anak laki-laki yang menunduk menatap gundukan tanah
yang terlihat cantik akibat bunga sakura yang berguguran.
Musim ini,
musim yang paling di tunggu kalangan anak remaja atau semua orang karena dapat
melihat bunga sakura yang bermekaran indah, tidak untuk anak laki-laki itu.
Dia menatap
nisan yang dulunya adalah seorang teman, hanya teman, karena kenyamanan yang
mereka berdua berikan, buih-buih cinta itu muncul, mereka menjalaninya dengan
antusias.
Namanya juga
takdir, setelah kita merasakan kebahagiaan pasti juga ada kesedihan. Tapi ini
takdir, takdir tidak membawa mereka bersama. Hanya dipertemukan untuk
mengungkap siapa mereka sebenarnya, ada hubungan apa dengan diri mereka berdua,
saling menyembuhkan luka masa lalu, setelah itu kita diajarkan cara berikhlas.
“Aishiteru yo.”
Hanya dua
kata itu yang mencerminkan perasaan anak laki-laki itu, sedih, kecewa, berat
hati, sangat. Kemudian ia memutar kembali memori-memori yang sudah ia tata rapi
di gudang dan mengingat dari nol sampai akhir.
“Kau adalah bunga
sakuraku. Dimana saat bunga itu lahir sampai ia jatuh dari pohonnya selalu
memberikan kebahagiaan orang-orang, selalu terlihat cerah dan bahagia, selalu
terlihat terang diantara bunga-bunga lainnya. Sampai kau gugur dan terjatuh
warnamu masih ada sampai musim itu berakhir. Disini, di Musim Semi.”
***
CHAPTER 1 : PENGUMUMAN MENGEJUTKAN
“Uh, Nani
?.”
Yamada yang
sedang membaca buku di kelas yang sudah waktunya istirahat masih
sempat-sempatnya membaca buku untuk pelajaran selanjutnya kebingungan melihat
temannya itu memanggil namanya dengan terburu-buru dan di tambah dengan
lari-lari seperti orang kesetanan.
“Kau harus
lihat ini!.” Paksa teman Yamada yang tingginya di bawah kata ‘normal’ karena
untuk seumurannya biasanya sekitar 160 keatas sedangkan dia mungkin masih 155
keatas sedikit.
“Chotto
matte…”
“Sudah ayo,
kau terlalu pintar untuk membaca buku ke lima puluh tiga kalinya.” Kata cowok
itu yang tidak sabar menarik tangan Yamada.
“Kau
menghitungnya ?.” Tanya Yamada santai.
“Sudahlah
ayo, Aku bisa gila melihatmu membaca buku terus menerus.” Ujarnya sukses
menarik tangan Yamada keluar kelas dan menuju papan pengumuman yang sudah ada
beberapa teman Yamada disana yang melihatnya.
“Nani ?,
kenapa kalian disini ?, ada apa ?.” Tanya Yamada heran melihat ke tujuh
temannya sudah disana terlebih dahulu.
“Lihatlah
ini.” Tunjuk cowok lainnya dengan jari telunjuknya mengarah pada selembar
kertas HVS A4 yang berisi
PENGUMUMAN
DIBERITAHUKAN KEPADA
MURID YANG TERCANTUM NAMANYA DI BAWAH INI HARAP MENEMUI KEPALA SEKOLAH DI
KOUCHOUSHITSU SAAT ISTIRAHAT:
1.
CHINEN YURI
2.
DAIKI ARIOKA
3.
HIKARU YAOTOME
4.
KEI INOO
5.
KEITO OKAMOTO
6.
RYOSUKE YAMADA
7.
YABU KOUTA
8.
YUTO NAKAJIMA
9.
YUYA TAKAKI
TERIMAKASIH.
“Imi desuka
?.” Tanya cowok lainnya yang berpostur lebih tinggi dan lebih tua dari yang
lainnya.
“Jaa, ke
ruang kepala sekolah.” Ajak Yamada tanpa basa-basi lalu mereka mengikutinya
dari belakang.
Saat menuju
ke ruang kepala sekolah banyak murid-murid cewek yang melihat mereka berjalan
dengan tatapan khas fans tanpa berkedip sekalipun. Mereka memang center dari sekolah, wajar saja jika
seluruh sekolah tahu akan kepintaran dan kekakkoian mereka.
“Ano,
sumimasen ?.” Jawab Yamada pertama saat memasuki ruang kepala sekolah.
“Ah, haitte
kimasu.”
Lalu mereka
bersembilan masuk dan duduk dengan kalem tanpa gerak sedikitpun diatas sofa
ruangan itu.
“Ah, jangan
canggung anak-anakku. Okaasan hanya ingin menyampaikan berita besar untuk
kalian.” Ujar ibu kepala sekolah tersenyum sumringah menatap mereka besembilan
satu-satu. Dan mereka semua saling pandang, bingung akan maksud dari Ibu kepala
sekolahnya itu.
“Kalian akan
ku kirim ke luar negeri untuk melanjutkan satu tahun bersekolah disana.
Sekalian kalian bisa refreshing sejenak dengan kota ini, bukan ?. Atau..
Mencari pasangan, hahahaa… Oke, lanjut ke topik,”
Semua anak
yang di panggil tadi reflek cengo melihat reaksi Ibu Kepala Sekolahnya yang
sepertinya sedikit over bahagia hari ini.
“Kalian akan
ku kirim ke luar negeri, lebih tepatnya England, London. Kalian akan sekolah di
SMA ternama, selama satu tahun saja, tidak usah lama-lama, orang tua kalian
sudah saya kirimkan surat persetujuan ijin tanpa kalian ketahui dan mereka
sangat antusias. Ibu juga selalu memantau nilai-nilai kalian dan akan di
setorkan kepada Ibu selama satu tahun apakah studi kalian lanacar atau tidak.
Nah, hanya itu saja, kalian bisa berangkat mulai besok. Jam penerbangan jam
tujuh pagi. Semua biaya sudah di tanggung sekolah.” Terang Ibu Kepala Sekolahnya
itu secara detail kepada mereka, dan respon mereka masih sama, bingung dan
cengo.
Mereka
memang senang bisa dikirim ke luar negeri apalagi center dunia yang bahasanya
selalu di pakai di seluruh dunia, tapi, apakah harus mendadak seperti ini dan
hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam ?. Setelah emuanya
mengumpulkan segenap nyawanya, satu-satu dari mereka mulai menanyakan hal.
“Ano,
okaasan, kenapa harus kita ?.” Tanya Yamada.
“Karena
kalian center dari seluruh sekolah selain kekakkoian kalian juga kepintaran
kalian, okaasan juga melihat kau selalu membaca buku di waktu istirahat, nak.”
Sepertinya Ibu Kepala Sekolah mereka ini sedikit gaul karena bahasanya yang
santai tidak berbelit-belit dan mengikuti zaman.
“Okaasan,
salah satu dari kami bodoh dalam hal berbicara bahasa asing terutama bahasa
Inggris. Apakah harus ?.” Tanya cowok lainnya berambut coklat gondrong yang
sedikit panjang yang di kenal dengan namanya, Yuya.
“Kalian
selalu mengikuti kelas Bahasa Inggris, bukan ?, saya harap kalian tidak membolos
waktu pelajaran itu. Itu sangat mudah, kalian tahu. Kalau begitu, bawalah kamus
Jepang ke Inggris untuk mengartikannya.” Jawab Ibu Kepala Sekolah dengan
santainya.
“Okaasan,
lalu biaya untuk makan, perlengkapan sekolah ?, bagaimana ?.” Tanya cowok paling
pendek diantara mereka yang terkenal dengan namanya, Chinen.
“Tadi
okaasan sudah mengatakan, bukan ?, biaya sekolah di tanggung sekolah, jika
biaya makan separonya di tanggung sekolah dan sisanya orang tua kalian yang
akan menransfer uang kepada kalian,” Jawab Ibu Kepala Sekolah dengan sabar
melihat kesembilan anak didiknya itu.
“Kalian
pintar-pintar tell me ya ?,” Gurau
Ibu Kepala Sekolah yang hanya di balas muka datar mereka.
“Kalian
tidak perlu khawatir, laksanakan saja apa yang sekolah tugaskan, passport dan
lainnya sudah di urus, ingat satu hal, jangan membuat kekacauan di Negara
orang. Ini Negara, nak, bukan kota kita pindah begitu saja.” Lanjut beliau.
“Ah,
arigatou gozaimasu, okaasan, sudah di beri kepercayaan kepada sekolah. Kalau
begitu kami pergi dulu.” Pamit Yamada dan yang lainnya, belum ada beberapa
langkah, beliau mengatakan,
“Pulanglah,
bersiaplah untuk besok, jangan tidur kemalaman, okaasan sudah titipkan izin
pada seluruh guru untuk tidak mengajar kalian.” Tutup beliau yang sekarang muali
berkutat dengan tugasnya.
“Hai,
arigatou.”
Setelah
keluar ruangan itu, mereka semua mulai memasang wajah terkejut mereka.
“This is crazy, man!.” Ujar cowok
berparas tinggi berambut pirang dan gigi yang gingsul yang terkenal julukan
paling kampret, namanya Hikaru.
“Kau mulai
belajar detik ini, eh ?.” Sindir cowok yang lain yang lebih tua dari mereka,
Yabu.
“Apakah kita
sedang bermimpi ?.” Tanya Yamada yang masih terkejut kejadian tadi.
“Mimpi yang
indah, bukan ?.” Jawab cowok lainnya dengan muka sok polosnya, dengan paras
yang lumayan tinggi dan rambutnya yang menutupi seluruh jidatnya, dia, Inoo.
Semua yang memikirkan selanjutnya apa yang harus dilakukan mulai mengalihkan
pandangan mereka ke sumber suara barusan dan menatapnya dengan ekspresi
menandakan ‘kau gila’.
“Apa ?,
kenapa ?, aku benar, kan ?.” Tanya nya yang masih saja sok polos dan sok cute,
ya, dia memang cute.
“Rasanya ku
ingin menonjok wajah sok cutemu itu.” Jawab cowok paling cool diantara mereka
semua, dia, Keito. Dia memang cool, tapi siapa sangka, sifatnya yang seperti hello kitty. Dan Inoo hanya memandangnya
bingung.
“Jaa, ayo
kita pulang, kita kumpul di depan sekolah saja jam lima pagi, bagaimana ?.”
Usul cowok lainnya yang juga kakkoi, manis, dan berparas tinggi, dia Yuto.
“He ?, ah,
gomen ?, aku tidak salah dengar, bukan ?.” Jawab cowok yang berparas pendek
setelah Chinen, dia, Daiki, sedikit terkejut mendengar usulan Yuto.
“Kenapa, Dai
?. Kau masih tidur, iya bukan ?, bahkan jam enam pagi kau masih tidur bukannya
berolahraga untuk menambah tinggi badanmu.” Ledek Yuto, reflek mereka
semuamenahan tawa mendengar ledekan Yuto.
“Seharusnya
kau berkata seperti itu pada Chinen.” Protes Daiki tidak terima.
“Setidaknya
Chinen bertubuh atletis dan selalu berolahraga.” UjarYuto mengalihkan pandangan
yang dia tau Daiki memasang muka yang sangat kesal.
“He ?, apa
kau bilang ?!.” Protes Daiki. Dan semuanya pun mulai menyembur tawa mereka.
“Sudahlah,
ayo kita pulang, kita bertemu jam lima pagi di sekolah, jarak bandara dengan
sekolah agak jauh dari sini, bukan ?.” Jawab Yamada menengahi dua orang
temannya yang saling meledek.
“Yosh, Jaa
nee~.” Jawab mereka semua lalu menuju ke kelas masing-masing dan berpencar
pulang.
~~~
.
.
.
.
CHAPTER 2 : KUMPUL
***
Keesokan
harinya, di depan sekolah yang masih menunjukkan pukul 04:45 masih sepi dan
matahari baru muncul setengah dari setengahnya sehingga masih berwarna jingga.
Disana terlihat dua orang mengenakan jaket tebal dan juga syal ditambah
koper-koper berisi perlengkapan sehari-hari sudah siap.
“Kita
terlalu pagi.” Ujar cowok berparas tinggi daripada sebelahnya yang beda drastic
darinya.
“Lebih cepat
lebih baik.” Jawabnya yang satu.
Yuto dan
Chinen, mereka terlalu pagi untuk berangkat, mengingat semua temannya sangat
kebo dan akan bangun mepet sekali jam enam pagi.
“Tapi disini
dingin sekali.” Gusar Yuto yang tidak tahan akan dinginnya pagi-pagi seperti
ini.
“Uh, tidak,
aku merasa seperti berada di kutub selatan.” Jawab Chinen.
“Kau normal
?.” Selidik Yuto melihat Chinen yang sedang memperagakan ‘kepanasan’.
“Menurutmu
?.”
“Tidak.”
“Terimakasih.”
“Ah,
Ryo-chan!.”
Dari kejauhan
terlihat Yamada sendiri sedang menggeret satu buah koper dan satu tas ransel
besar, tidak sebesar tas gunung, besarnya normal untuk orang yang hendak pergi
keluar negeri lebih dari satu bulan. Dengan pakaian jaket tidak terlalu tebal
dan juga syal.
“Hanya
kalian berdua ?, dimana yang lain ?, lima menit lagi sudah jam lima,” Tanya
Yamada bingung melihat hanya mereka berdua disana yang sepertinya sudah lama
menunggu.
“Sejak kapan
kalian menunggu disini ?.” Tanyanya lagi.
“Ya, kami
disini, hanya ‘kami’, sejak sepuluh menit yang lalu.” Jawab Yuto lelah karena
berdiri terus menerus mengingat suhu udara sangatlah dingin.
“Sugoii,
kalian selalu datang lebih cepat. Ngomong-ngomong, suhunya berapa sekarang ?,
sangat dingin.” Celetuk Yamada yang juga tidak nyaman akan suhu hari ini.
“Tujuh
celcius.” Celetuk Chinen seraya membawa thermometer di tangannya.
“Kau ?, bawa
alat thermometer ?, untuk apa ?.” Tanya Yuto heran.
“Menurun
thermometer digunakan untuk apa ?.” Tanya Chinen kembali.
“Sepertinya
auramu sedingin suhu hari ini, ya, Chii-san ?.” Sindir Yamada.
“Ah!, lihat
mereka!.” Tunjuk Yuto di depannya, terdapat Hikaru, Keito, dan Daiki disana,
dan.. Anu, ada yang salah.
“Untung
kalian tidak menghampiri dua anak ini, asal kalian tahu, sudah berapa kali
Keito menabrak tiang listrik dan Daiki tersandung untuk kesekian kalinya,
mereka paling malas jika bangun tidur.” Protes Hikaru yang sedang menarik
tangan mereka dan mereka hanya menunduk sambil memejamkan matanya.
“Biarkan aku
tidur…” Gurau Daiki yang hampir jatuh saking ngantuknya.
“Semalam
kalian tidur jam berapa ?.” Tanya Yamada dengan muka bingungnya menatap mereka
berdua.
“Aku tidak
melihat jam… Tinggal… Tidur saja.” Jawab Keito.
Brukk… Brukk…
“Ittaii…
Chinen, apa yang kau lakukan ?.” Tanya Daiki dan Keito bersama, mereka jatuh
merintih kesakitan akibat lemparan tas Chinen dan juga tas Yuto yang Chinen
ambil.
“Agar kalian
bangun, daripada memalukan berjalan dengan zombie.” Sindir Chinen, sepertinya
hari ini dia sedikit dingin.
“He?, kau
menyamakan kita dengan zombie ?.” Protes Keito tidak terima, mereka sudah
berdiri seperti tadi.
“Lihatlah,
kalian berjalan dengan kepala menunduk ditambah jalan kalian kesana kemari
seperti orang mabuk, terlihat seperti zombie.” Jelas Chinen menatap mereka
dengan muka datar, sedangkan Yuto, Yamada, dan Hikaru hanya menahan tawa.
“Chii-san,
tadi pagi kau sarapan apa ?.” Selidik Daiki, ada yang tidak beres dengan Chinen
hari ini, dia sedikit dingin.
“Kenapa ?.”
Tanya Chinen balik menatap Daiki dengan mengerutkan keningnya.
“Ah, itu
mereka bertiga, baik, sudah lengkap.” Tunjuk Yuto melihat sisa dari yaitu para
trio paling tinggi sedang berjalan menghampiri mereka.
“Inoo-chan,
kau memakai bedak dan lipstick ya ?.” Selidik Yamada melihat wajah Inoo
lekat-lekat.
“Demi planet
Pluto yang tidak dianggap, Inoo-chan, kau ingatkan ?, kau itu bukan wanita ?.”
Tanya Hikaru mengerutkan alisnya menatap Inoo lekat-lekat.
“Baka!, aku
tidak memakai make up, mungkin aku memang di takdirkan kawaii seperti ini.”
Jawab Inoo dengan kedua tangannya membentuk huruf ‘peace’.
“Ehem.. Hem…
Sudah lengkap, ayo kita berangkat, lihat, ini sudah jam lima lebih sepuluh.”
Ujar Yamada mengalihkan topik pembicaraan, jika di teruskan kau bisa gila
dengan Inoo.
Sebelum
mereka berangkat, mereka mengecek barang-barang bawaan mereka, di sela-sela
itu, Chinen angkat bicara.
“Tidak ada
yang mengantuk, kan ?, aku tidak mau berjalan dengan zombie.” Tanya Chinen
seraya melihat sekelilingnya yang juga menatap Chii.
“Cih,”
celetuk Daiki.
“Yosh, sudah
lengkap ?, ayo berangkat.” Kata Yamada dan hanya di tanggapi anggukan pada
mereka semua dan mereka lalu berangkat menuju
bandara, sebelumnya mereka menaiki kereta dua kali beberapa menit hingga
sampai di bandara.
***
Maapkan Arichan kalo menggaje ceritanya.. Arichan udah sampe sepuluhan chapter cuma ini chapternya Arichan gabung aja biar terkesan panjang (?) ntar lihat konfliknya sendiri deh...
Happy Reading~
-Arichan-



Tidak ada komentar:
Posting Komentar