Rabu, 01 Maret 2017

SPRING TIME PART 1



SPRING TIME
CAST:
-MEMBER HEY! SAY! JUMP
-HARUNA GOLDSTEIN (OC)
-ROWENNA GOLDSTEIN (OC)
-REINA HINAMORI (OC)
-OTHERS CARA

BAHASA    : CAMPUR


PROLOG       :

            Di musim semi, dimana di negeri sakura ini menjatuhkan bunganya dengan anggunnya membuat jalanan, kota-kota, dari ketinggian lebih dari seribu kaki akan terlihat indah dan berwarna pink cerah. Tidak dengan seorang anak laki-laki yang menunduk menatap gundukan tanah yang terlihat cantik akibat bunga sakura yang berguguran.

Musim ini, musim yang paling di tunggu kalangan anak remaja atau semua orang karena dapat melihat bunga sakura yang bermekaran indah, tidak untuk anak laki-laki itu.

Dia menatap nisan yang dulunya adalah seorang teman, hanya teman, karena kenyamanan yang mereka berdua berikan, buih-buih cinta itu muncul, mereka menjalaninya dengan antusias.

Namanya juga takdir, setelah kita merasakan kebahagiaan pasti juga ada kesedihan. Tapi ini takdir, takdir tidak membawa mereka bersama. Hanya dipertemukan untuk mengungkap siapa mereka sebenarnya, ada hubungan apa dengan diri mereka berdua, saling menyembuhkan luka masa lalu, setelah itu kita diajarkan cara berikhlas.
Aishiteru yo.

Hanya dua kata itu yang mencerminkan perasaan anak laki-laki itu, sedih, kecewa, berat hati, sangat. Kemudian ia memutar kembali memori-memori yang sudah ia tata rapi di gudang dan mengingat dari nol sampai akhir.

“Kau adalah bunga sakuraku. Dimana saat bunga itu lahir sampai ia jatuh dari pohonnya selalu memberikan kebahagiaan orang-orang, selalu terlihat cerah dan bahagia, selalu terlihat terang diantara bunga-bunga lainnya. Sampai kau gugur dan terjatuh warnamu masih ada sampai musim itu berakhir. Disini, di Musim Semi.”



***

CHAPTER      1          :  PENGUMUMAN MENGEJUTKAN


“Uh, Nani ?.”

Yamada yang sedang membaca buku di kelas yang sudah waktunya istirahat masih sempat-sempatnya membaca buku untuk pelajaran selanjutnya kebingungan melihat temannya itu memanggil namanya dengan terburu-buru dan di tambah dengan lari-lari seperti orang kesetanan.

“Kau harus lihat ini!.” Paksa teman Yamada yang tingginya di bawah kata ‘normal’ karena untuk seumurannya biasanya sekitar 160 keatas sedangkan dia mungkin masih 155 keatas sedikit.

“Chotto matte…”

“Sudah ayo, kau terlalu pintar untuk membaca buku ke lima puluh tiga kalinya.” Kata cowok itu yang tidak sabar menarik tangan Yamada.

“Kau menghitungnya ?.” Tanya Yamada santai.

“Sudahlah ayo, Aku bisa gila melihatmu membaca buku terus menerus.” Ujarnya sukses menarik tangan Yamada keluar kelas dan menuju papan pengumuman yang sudah ada beberapa teman Yamada disana yang melihatnya.

“Nani ?, kenapa kalian disini ?, ada apa ?.” Tanya Yamada heran melihat ke tujuh temannya sudah disana terlebih dahulu.

“Lihatlah ini.” Tunjuk cowok lainnya dengan jari telunjuknya mengarah pada selembar kertas HVS A4 yang berisi

PENGUMUMAN

DIBERITAHUKAN KEPADA MURID YANG TERCANTUM NAMANYA DI BAWAH INI HARAP MENEMUI KEPALA SEKOLAH DI KOUCHOUSHITSU SAAT ISTIRAHAT:

1.     CHINEN YURI
2.     DAIKI ARIOKA
3.     HIKARU YAOTOME
4.     KEI INOO
5.     KEITO OKAMOTO
6.     RYOSUKE YAMADA
7.     YABU KOUTA
8.     YUTO NAKAJIMA
9.     YUYA TAKAKI

TERIMAKASIH.

“Imi desuka ?.” Tanya cowok lainnya yang berpostur lebih tinggi dan lebih tua dari yang lainnya.

“Jaa, ke ruang kepala sekolah.” Ajak Yamada tanpa basa-basi lalu mereka mengikutinya dari belakang.

Saat menuju ke ruang kepala sekolah banyak murid-murid cewek yang melihat mereka berjalan dengan tatapan khas fans tanpa berkedip sekalipun. Mereka memang center dari sekolah, wajar saja jika seluruh sekolah tahu akan kepintaran dan kekakkoian mereka.

“Ano, sumimasen ?.” Jawab Yamada pertama saat memasuki ruang kepala sekolah.
“Ah, haitte kimasu.”

Lalu mereka bersembilan masuk dan duduk dengan kalem tanpa gerak sedikitpun diatas sofa ruangan itu.

“Ah, jangan canggung anak-anakku. Okaasan hanya ingin menyampaikan berita besar untuk kalian.” Ujar ibu kepala sekolah tersenyum sumringah menatap mereka besembilan satu-satu. Dan mereka semua saling pandang, bingung akan maksud dari Ibu kepala sekolahnya itu.

“Kalian akan ku kirim ke luar negeri untuk melanjutkan satu tahun bersekolah disana. Sekalian kalian bisa refreshing sejenak dengan kota ini, bukan ?. Atau.. Mencari pasangan, hahahaa… Oke, lanjut ke topik,”

Semua anak yang di panggil tadi reflek cengo melihat reaksi Ibu Kepala Sekolahnya yang sepertinya sedikit over bahagia hari ini.

“Kalian akan ku kirim ke luar negeri, lebih tepatnya England, London. Kalian akan sekolah di SMA ternama, selama satu tahun saja, tidak usah lama-lama, orang tua kalian sudah saya kirimkan surat persetujuan ijin tanpa kalian ketahui dan mereka sangat antusias. Ibu juga selalu memantau nilai-nilai kalian dan akan di setorkan kepada Ibu selama satu tahun apakah studi kalian lanacar atau tidak. Nah, hanya itu saja, kalian bisa berangkat mulai besok. Jam penerbangan jam tujuh pagi. Semua biaya sudah di tanggung sekolah.” Terang Ibu Kepala Sekolahnya itu secara detail kepada mereka, dan respon mereka masih sama, bingung dan cengo.

Mereka memang senang bisa dikirim ke luar negeri apalagi center dunia yang bahasanya selalu di pakai di seluruh dunia, tapi, apakah harus mendadak seperti ini dan hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam ?. Setelah emuanya mengumpulkan segenap nyawanya, satu-satu dari mereka mulai menanyakan hal.
“Ano, okaasan, kenapa harus kita ?.” Tanya Yamada.

“Karena kalian center dari seluruh sekolah selain kekakkoian kalian juga kepintaran kalian, okaasan juga melihat kau selalu membaca buku di waktu istirahat, nak.” Sepertinya Ibu Kepala Sekolah mereka ini sedikit gaul karena bahasanya yang santai tidak berbelit-belit dan mengikuti zaman.

“Okaasan, salah satu dari kami bodoh dalam hal berbicara bahasa asing terutama bahasa Inggris. Apakah harus ?.” Tanya cowok lainnya berambut coklat gondrong yang sedikit panjang yang di kenal dengan namanya, Yuya.

“Kalian selalu mengikuti kelas Bahasa Inggris, bukan ?, saya harap kalian tidak membolos waktu pelajaran itu. Itu sangat mudah, kalian tahu. Kalau begitu, bawalah kamus Jepang ke Inggris untuk mengartikannya.” Jawab Ibu Kepala Sekolah dengan santainya.

“Okaasan, lalu biaya untuk makan, perlengkapan sekolah ?, bagaimana ?.” Tanya cowok paling pendek diantara mereka yang terkenal dengan namanya, Chinen.
“Tadi okaasan sudah mengatakan, bukan ?, biaya sekolah di tanggung sekolah, jika biaya makan separonya di tanggung sekolah dan sisanya orang tua kalian yang akan menransfer uang kepada kalian,” Jawab Ibu Kepala Sekolah dengan sabar melihat kesembilan anak didiknya itu.

“Kalian pintar-pintar tell me ya ?,” Gurau Ibu Kepala Sekolah yang hanya di balas muka datar mereka.

“Kalian tidak perlu khawatir, laksanakan saja apa yang sekolah tugaskan, passport dan lainnya sudah di urus, ingat satu hal, jangan membuat kekacauan di Negara orang. Ini Negara, nak, bukan kota kita pindah begitu saja.” Lanjut beliau.

“Ah, arigatou gozaimasu, okaasan, sudah di beri kepercayaan kepada sekolah. Kalau begitu kami pergi dulu.” Pamit Yamada dan yang lainnya, belum ada beberapa langkah, beliau mengatakan,
“Pulanglah, bersiaplah untuk besok, jangan tidur kemalaman, okaasan sudah titipkan izin pada seluruh guru untuk tidak mengajar kalian.” Tutup beliau yang sekarang muali berkutat dengan tugasnya.

“Hai, arigatou.”
Setelah keluar ruangan itu, mereka semua mulai memasang wajah terkejut mereka.

This is crazy, man!.” Ujar cowok berparas tinggi berambut pirang dan gigi yang gingsul yang terkenal julukan paling kampret, namanya Hikaru.

“Kau mulai belajar detik ini, eh ?.” Sindir cowok yang lain yang lebih tua dari mereka, Yabu.

“Apakah kita sedang bermimpi ?.” Tanya Yamada yang masih terkejut kejadian tadi.
“Mimpi yang indah, bukan ?.” Jawab cowok lainnya dengan muka sok polosnya, dengan paras yang lumayan tinggi dan rambutnya yang menutupi seluruh jidatnya, dia, Inoo.

Semua yang memikirkan selanjutnya apa yang harus dilakukan mulai mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara barusan dan menatapnya dengan ekspresi menandakan ‘kau gila’.

“Apa ?, kenapa ?, aku benar, kan ?.” Tanya nya yang masih saja sok polos dan sok cute, ya, dia memang cute.

“Rasanya ku ingin menonjok wajah sok cutemu itu.” Jawab cowok paling cool diantara mereka semua, dia, Keito. Dia memang cool, tapi siapa sangka, sifatnya yang seperti hello kitty. Dan Inoo hanya memandangnya bingung.

“Jaa, ayo kita pulang, kita kumpul di depan sekolah saja jam lima pagi, bagaimana ?.” Usul cowok lainnya yang juga kakkoi, manis, dan berparas tinggi, dia Yuto.

“He ?, ah, gomen ?, aku tidak salah dengar, bukan ?.” Jawab cowok yang berparas pendek setelah Chinen, dia, Daiki, sedikit terkejut mendengar usulan Yuto.

“Kenapa, Dai ?. Kau masih tidur, iya bukan ?, bahkan jam enam pagi kau masih tidur bukannya berolahraga untuk menambah tinggi badanmu.” Ledek Yuto, reflek mereka semuamenahan tawa mendengar ledekan Yuto.

“Seharusnya kau berkata seperti itu pada Chinen.” Protes Daiki tidak terima.

“Setidaknya Chinen bertubuh atletis dan selalu berolahraga.” UjarYuto mengalihkan pandangan yang dia tau Daiki memasang muka yang sangat kesal.

“He ?, apa kau bilang ?!.” Protes Daiki. Dan semuanya pun mulai menyembur tawa mereka.

“Sudahlah, ayo kita pulang, kita bertemu jam lima pagi di sekolah, jarak bandara dengan sekolah agak jauh dari sini, bukan ?.” Jawab Yamada menengahi dua orang temannya yang saling meledek.

“Yosh, Jaa nee~.” Jawab mereka semua lalu menuju ke kelas masing-masing dan berpencar pulang.



~~~
.
.
.
.

CHAPTER 2              : KUMPUL

***
Keesokan harinya, di depan sekolah yang masih menunjukkan pukul 04:45 masih sepi dan matahari baru muncul setengah dari setengahnya sehingga masih berwarna jingga. Disana terlihat dua orang mengenakan jaket tebal dan juga syal ditambah koper-koper berisi perlengkapan sehari-hari sudah siap.

“Kita terlalu pagi.” Ujar cowok berparas tinggi daripada sebelahnya yang beda drastic darinya.

“Lebih cepat lebih baik.” Jawabnya yang satu.

Yuto dan Chinen, mereka terlalu pagi untuk berangkat, mengingat semua temannya sangat kebo dan akan bangun mepet sekali jam enam pagi.

“Tapi disini dingin sekali.” Gusar Yuto yang tidak tahan akan dinginnya pagi-pagi seperti ini.

“Uh, tidak, aku merasa seperti berada di kutub selatan.” Jawab Chinen.

“Kau normal ?.” Selidik Yuto melihat Chinen yang sedang memperagakan ‘kepanasan’.

“Menurutmu ?.”

“Tidak.”

“Terimakasih.”

“Ah, Ryo-chan!.”

Dari kejauhan terlihat Yamada sendiri sedang menggeret satu buah koper dan satu tas ransel besar, tidak sebesar tas gunung, besarnya normal untuk orang yang hendak pergi keluar negeri lebih dari satu bulan. Dengan pakaian jaket tidak terlalu tebal dan juga syal.

“Hanya kalian berdua ?, dimana yang lain ?, lima menit lagi sudah jam lima,” Tanya Yamada bingung melihat hanya mereka berdua disana yang sepertinya sudah lama menunggu.

“Sejak kapan kalian menunggu disini ?.” Tanyanya lagi.

“Ya, kami disini, hanya ‘kami’, sejak sepuluh menit yang lalu.” Jawab Yuto lelah karena berdiri terus menerus mengingat suhu udara sangatlah dingin.

“Sugoii, kalian selalu datang lebih cepat. Ngomong-ngomong, suhunya berapa sekarang ?, sangat dingin.” Celetuk Yamada yang juga tidak nyaman akan suhu hari ini.

“Tujuh celcius.” Celetuk Chinen seraya membawa thermometer di tangannya.
“Kau ?, bawa alat thermometer ?, untuk apa ?.” Tanya Yuto heran.

“Menurun thermometer digunakan untuk apa ?.” Tanya Chinen kembali.

“Sepertinya auramu sedingin suhu hari ini, ya, Chii-san ?.” Sindir Yamada.

“Ah!, lihat mereka!.” Tunjuk Yuto di depannya, terdapat Hikaru, Keito, dan Daiki disana, dan.. Anu, ada yang salah.

“Untung kalian tidak menghampiri dua anak ini, asal kalian tahu, sudah berapa kali Keito menabrak tiang listrik dan Daiki tersandung untuk kesekian kalinya, mereka paling malas jika bangun tidur.” Protes Hikaru yang sedang menarik tangan mereka dan mereka hanya menunduk sambil memejamkan matanya.

“Biarkan aku tidur…” Gurau Daiki yang hampir jatuh saking ngantuknya.
“Semalam kalian tidur jam berapa ?.” Tanya Yamada dengan muka bingungnya menatap mereka berdua.

“Aku tidak melihat jam… Tinggal… Tidur saja.” Jawab Keito.

Brukk… Brukk…

“Ittaii… Chinen, apa yang kau lakukan ?.” Tanya Daiki dan Keito bersama, mereka jatuh merintih kesakitan akibat lemparan tas Chinen dan juga tas Yuto yang Chinen ambil.

“Agar kalian bangun, daripada memalukan berjalan dengan zombie.” Sindir Chinen, sepertinya hari ini dia sedikit dingin.

“He?, kau menyamakan kita dengan zombie ?.” Protes Keito tidak terima, mereka sudah berdiri seperti tadi.

“Lihatlah, kalian berjalan dengan kepala menunduk ditambah jalan kalian kesana kemari seperti orang mabuk, terlihat seperti zombie.” Jelas Chinen menatap mereka dengan muka datar, sedangkan Yuto, Yamada, dan Hikaru hanya menahan tawa.
“Chii-san, tadi pagi kau sarapan apa ?.” Selidik Daiki, ada yang tidak beres dengan Chinen hari ini, dia sedikit dingin.

“Kenapa ?.” Tanya Chinen balik menatap Daiki dengan mengerutkan keningnya.

“Ah, itu mereka bertiga, baik, sudah lengkap.” Tunjuk Yuto melihat sisa dari yaitu para trio paling tinggi sedang berjalan menghampiri mereka.

“Inoo-chan, kau memakai bedak dan lipstick ya ?.” Selidik Yamada melihat wajah Inoo lekat-lekat.

“Demi planet Pluto yang tidak dianggap, Inoo-chan, kau ingatkan ?, kau itu bukan wanita ?.” Tanya Hikaru mengerutkan alisnya menatap Inoo lekat-lekat.

“Baka!, aku tidak memakai make up, mungkin aku memang di takdirkan kawaii seperti ini.” Jawab Inoo dengan kedua tangannya membentuk huruf ‘peace’.

“Ehem.. Hem… Sudah lengkap, ayo kita berangkat, lihat, ini sudah jam lima lebih sepuluh.” Ujar Yamada mengalihkan topik pembicaraan, jika di teruskan kau bisa gila dengan Inoo.

Sebelum mereka berangkat, mereka mengecek barang-barang bawaan mereka, di sela-sela itu, Chinen angkat bicara.

“Tidak ada yang mengantuk, kan ?, aku tidak mau berjalan dengan zombie.” Tanya Chinen seraya melihat sekelilingnya yang juga menatap Chii.

“Cih,” celetuk Daiki.

“Yosh, sudah lengkap ?, ayo berangkat.” Kata Yamada dan hanya di tanggapi anggukan pada mereka semua dan mereka lalu berangkat menuju  bandara, sebelumnya mereka menaiki kereta dua kali beberapa menit hingga sampai di bandara.

***

Maapkan Arichan kalo menggaje ceritanya.. Arichan udah sampe sepuluhan chapter cuma ini chapternya Arichan gabung aja biar terkesan panjang (?) ntar lihat konfliknya sendiri deh...

Happy Reading~

-Arichan-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar