CHAPTER 3 : PENERBANGAN
MEMUAKKAN
***
Setibanya di Bandara lagi-lagi mereka
terlalu awal, jam keberangkatan mulai pukul 07.00 AM sedangkan mereka tiba di
bandara pukul 06.30AM.
"Apakah kita harus menunggu tiga
puluh menit ?." Tanya Yuya yang paling tidak suka menunggu.
"Ano, ada yang kurang." Pikir
Yamada, reflek semuanya menatap Yamada was-was.
"Jika kita sampai disana... Kita
akan menginap dimana ?."
Ngek.
Yang lainnya pun berpikir dan mengingat
perkataan Ibu Kepala Sekolah mereka dan Ibu Kepala Sekolah mereka tidak
memberitahukan dimana mereka akan tinggal selama setahun.
Bayangkan saja, ada yang menepuk jidat,
cengo, pandangan kosong, berpikir keras, mereka was-was seperti orang hilang.
"Moshi-moshi, Okaasan."
Semuanya pun menatap sumber suara dan
ternyata di dapati Chinen menelpon Ibu Kepala Sekolah.
"Ah, Chinen, gomen ne
Okaasan lupa memberitahukan kalian akan menginap dimana. Okaasan beritahu,
kalian akan menginap di Park Villa tidak jauh dengan Universitas Harvard,
Okaasan yakin salah satu dari kalian tahu, tiketnya jangan lupa, ya, semoga
selamat sampai tujuan!."
Tuttt...
"Chii-san, kau dapat nomor kepala
sekolah darimana ?." Tanya Inoo.
"Apa katanya ?." Tanya
Yamada.
"Kita akan menginap di Park Villa,
katanya salah satu dari ki—"
Belum juga Chinen selesai melanjutkan
kata-katanya Keito sedikit berteriak dengan antusias.
"Nani ?!, Park Villa ?!, kau
serius ?!." Tanya Keito yang sedikit meninggikan suaranya, memang bandara
sedikit ramai, untung saja di sekitar mereka tidak banyak orang yang lewat.
"Kau tahu ?." Tanya Chinen.
"Tentu. Hanya orang konglomerat kelas
atas yang mampu membayar uang sewanya." Jawab Keito sangat antusias.
"Kita berhutang budi banyak pada
sekolah." Chinen sedikit merenung.
"Sepertinya kau pengalaman sekali
pergi ke luar negeri terutama London ?." Selidik Yuto yang berada di
samping Keito.
"Ya, sudah dua—"
"Baik. Kau pandu kami, kau yang di
depan, dan kau yang akan berbicara bahasa Inggris untuk kita." Potong
Yamada santai dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
"He?!, nani ?!, chotto
matte.." Keito sedikit terkejut dan bingung melihat semua temannya sangat
santai menunggu jam penerbangan seakan mereka sudah punya pemandu wisata yang
sangat handal dan tidak akan cemas akan kemana-mana.
"Kau tahu kan pelajaran Inggrisku
mendapat berapa ?, jadi, bantu kami." Ujar Yuya yang hanya melirik Keito.
"Yah, terserah kalian, aku bisa
meninggalkan kalian diam-diam dan pergi ke Hotel sendirian." Jawab Keito
santai tidak mau kalah. Dan mereka semua menatap Keito dengan pandangan 'jangan
coba-coba'.
"Jam penerbangan pukul
tujuh dengan tujuan -------- akan tiba, penumpang di harapkan mempersiapkan
diri."
Terdengar bunyi megaphone dari seluruh
bandara, dan mereka bersembilan lalu bersiap-siap.
"Kita satu kabin, bukan ?. Siapa
yang sebangku denganku ?, aku nomor sembilan." Tanya Keito.
"Kau denganku, aku nomor
sepuluh." Ujar Yuto.
"Aku lima. Siapa enam ?."
Tanya Yabu.
"Aku enam." Jawab Inoo cepat.
"Ah, Ryo-chan, kau delapan
rupanya, kau berarti denganku, aku tujuh." Ujar Hikaru dengan merangkul
pundak Yamada.
"Ah, iya."
"Yeah, bung, kita satu
bangku." Ujar Daiki seraya mengajak Yuya seperti tos tangan. Bayangkan saja
Daiki yang kecil satu bangku dengan kacang panjang.
"Chinen, berarti kau sendirian
?." Tanya Yamada sedikit kasihan dengan teman dekatnya itu.
"Tak apa, yang penting selamat sampai
tujuan." Jawab Chinen seraya merapikan barang-barangnya tanpa melihat
Yamada.
"Dia kenapa, sih ?." Tanya
Hikaru berbisik kepada Yamada dan hanya dijawab gelengan kepala.
"Dia tidak sedang sakit, kan
?." Tanya Inoo juga sedikit berbisik ke Yabu.
"Mungkin butuh belaian."
Jawab Yabu santai dan mendapat getokan kepala dari Inoo.
"Chotto, tapi kita tetap satu
kabin, bukan ?." Tanya Keito yang sedikit ragu mereka akan pisah kabin
walau kebetulan nomor mereka pas.
"Tentu tidak, sayang, sudahlah,
ayo kita naik." Jawab Yuya yang sedikit jengkel daritadi Keito gelisah
hanya menanyakan kabin. Lalu mereka mulai menyimpan barang-barang mereka
ke(mana dah author nggak tau -_- yang kek escalator gitu di cek satu-satu(?)).
Lalu mereka mencari kabin yang sesuai dan duduk sesuai nomor.
Saat penerbangan mulai berjalan, baru
saja pesawat melintas ke udara, salah satu dari mereka mabuk udara.
"Tidur saja, Dai-chan, jika kau
ingin memesan makanan akan ku pesankan pada pramugari." Usul Yuya dan
hanya di jawab anggukan kepala.
Yamada yang mengetahui Chinen duduk
sebangku dengan seorang perempuan yang sebaya dengannya mulai berbisik pada
Hikaru dan menyalur pada Yabu dilanjut Inoo hingga titik terakhir, Daiki yang
tertidur. Terlihat Chinen mulai sedikit berbicara pada sebelahnya agar tidak
merasakan kecanggungan selama penerbangan.
"Ah, ano, boleh kenalan ?."
Tanya seorang perempuan di sebelah Chinen.
"Ah, tentu." Jawab Chinen
santai.
"Watashi wa Rowenna Goldstein,
yoroshiku."
"Chinen Yuri, yoroshiku."
Lalu mereka mulai berjabat tangan untuk
pertama kalinya.
"Kulihat kau bukan orang Jepang,
ya ?, dari namamu." Tanya Chinen.
"Bukan. Aku berasal dari Inggris,
tapi kebetulan sedang liburan jadi aku pergi ke Jepang untuk pertama
kalinya." Jawab perempuan itu yang dikiranya bernama Rowenna menatap
senyum ke arah Chinen, dan Chinen hanya sedikit salah tingkah, dia manis
sekali.
"Sendirian ?." Tanya Chii.
"Iya, sebenarnya aku dengan kakakku
tetapi kakakku sedang di rawat di Rumah Sakit jadinya aku berangkat sendiri,
sayang sekali, kan kalau aku juga tidak ikut, sebenarnya bangku yang kamu
duduki itu untuk kakakku tapi ku batalkan ternyata kau yang
mendapatkannya." Jawab Rowenna dengan ramah.
"Ah.. Ya.. Sepertinya kau ada
kesalahan berbahasa Jepang, saat kau berbicara tadi." Jawab Chinen.
"Seriously ?, sorry, I will
speak with my country language." Jawab Rowenna yang sedikit salah
tingkah mengingat ia tidak sepenuhnya bisa berbahsa Jepang.
"Ah, no problem, kau sudah termasuk pandai dalam
berbicara seperti itu pada orang Jepang asli." Ujar Chinen ditambah dengan
senyuman, tunggu, sejak dari tadi pagi dia selalu memasang muka dingin, ada apa
ini ?.
"Kau ternyata bisa berbahasa
Inggris." Sambung Rowenna.
"Tidak juga, Rowenna."
"Ah, sepertinya namaku terlalu
panjang, panggil saja Enna, seperti adikku memanggilku." Ujar Rowenna
lagi-lagi menyunggingkan senyumannya.
"Ehem.. Ohokkk... Hikaru-san, kau
membawa minum ?, ah tentu saja tidak, tolong pesankan aku minuman."
"Oke oke tenang dulu
Ryo-chan" Jawab Hikaru lalu memesankan minuman.
Terdengar suara batuk yang
dibuat-dibuat dari seberang tempat duduk Chinen dan ternyata Yamada yang
berpura-pura batuk untuk memancing temannya itu.
"Mereka gila." Ujar Yabu
dengan menyilakan tangannya di depan dada melihat drama gratis di depannya,
bangkunya dengan Inoo berada di belakang bangku Yama dan Hikka dan berada di
sebelah kanan.
"Aku tidak ikut-ikuttan."
Sambung Inoo yang melihat kota dari bawah dan dari jendela dengan gumpalan awan
yang ada.
"Uhuyy.. Drama gratis." Ujar
Keito dengan kedua tangannya menyila ke belakang menyangga kepalanya dan
menatap kursi di depannya.
"Berisik, lagi makan, nih."
Sambung Yuya yang sangat tidak peduli ada drama atau film komedi atau sirkus di
depannya, dia hanya konsentrasi pada makanan.
"Ahh~ seperti di film-film."
Sambung Yuto dengan kepalanya di sangga pada telapak tangan kanannya menatap kemana saja asal tidak menatap tempat duduk Chinen dengan seorang perempuan di sebelahnya.
Chinen yang mendengar ocehan
teman-temannya sedikit risih akan suasana sekarang.
"Mereka teman-temanmu ?."
Tanya Rowenna yang menyadari jika mereka teman-teman Chinen.
"Bukan, mereka orang gila yang
hanya syirik pada keadaan." Jawab Chinen santai lalu mulai memesan makanan
seperti halnya Yuya. Dan teman-teman Chinen yang di kata seperti itu hanya
melirik sinis dan mulai mengeyahkan apa yang Chinen dan Rowenna lakukan.
"Kau tidak memesan makanan
?." Tanya Chinen yang sudah disuguhkan beberapa dessert yang ia pesan.
"Ah, iya, aku juga pesankan aku
sama seperti dia." Jawab Rowenna.
"Kenapa ?." Tanya Chinen.
"Yang penting makan." Jawab
Rowenna, lalu mereka berdua tersenyum bersama.
"Yaelah, bung, tadi sama kita
memasang muka dingin, uhh seperti suhu pagi hari ini..." Ujar Yamada yang
juga sudah berkutat pada makanan.
"Setelah ketemu yang ehem.."
Lanjut Hikaru.
"Eh, sumringah, bahagia sekali,
ya." Lanjut Keito.
"Urusai." Celetuk Chinen,
lalu di dapati mereka semua cekikian menahan tawa termasuk Yabu dan Inoo yang
tidak ikut-ikuttan.
***
CHAPTER 4 : WELCOME TO LONDON
Dalam
perjalanan, mereka sudah mabuk kepayah dan setelah makan mereka mulai tidur
untuk menghilangkan rasa mabuk yang ada, di saat semua sedang tidur hanya Daiki
lah yang terbangun.
“Yah.. Aku
tidur, mereka bangun, aku bangun, mereka tidur, ini kenapa, sih ?.” Ujar Daiki
yang sedikit berdiri untuk melihat teman-temannya yang sudah terlelap semuanya,
namun, pandangan Daiki fokus pada kursi depannya.
“Chinen ?,
siapa perempuan itu dengan santainya tidur di bahu Chii ?.” Gumam Daiki melihat
Chii dan perempuan sebangkunya.
“Bodo ah,
ano, sumimasen.. Boleh saya pesan sesuatu ?.”
Sesampainya
di bandara tujuan saat mereka turun dari pesawat mereka sedikit merenggangkan
badannya yang pegal-pegal akibat duduk terlalu lama di dalam pesawat. Chinen
sudah berpamitan dengan teman sebangkunya yang katanya sudah di jemput oleh
keluarganya.
“Chii-san,
aku melihat sebelahmu dengan santainya tidur di bahumu, kau menegnalnya ?,
siapa ?.” Tanya Daiki yang melihat Chinen menguap lebar dengan tidak sopannya.
“Hontou ?!,
nee, Dai-chan seharusnya kau mengambil foto untuk itu dan menunjukkannya pada
kami.” Ujar Yuya terkejut, bukan Yuya, tapi semuanya mendengar pertanyaan
Daiki.
“Kau bodoh
?, sinting ?, atau apa ?, memangnya boleh menghidupkan barang elektronik di
dalam pesawat ?.” Tanya Daiki sedikit kesal melihat kebodohan temannya itu.
“Ah, yah,
souka.” Jawab Yuya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Dia
perempuan, perempuan harus di hargai bahkan jika kau melihat seorang perempuan
mengantuk dan ingin tidur tapi tidak nyaman apakah kau tidak menawarinya tidur
di bahumu ?.” Tanya Chinen kembali, pedas.
“Ini anak
daritadi pagi kenapa, sih ?.” Gumam Yabu pada Inoo yang hanya di tanggapi
gelengan kepala.
“Jaa, ayo
komandan!, kau yang depan!.” Ujar Yamada menepuk pundak Keito agar dia yang
memimpin perjalanan menuju penginapan.
Lalu mereka
mulai keluar dari bandara, daripada membuang-buang waktu dan biaya menaiki bus
umum bolak-balik mereka memilih menaiki taxi agar cepat sampai tujuan. Lalu
mereka memesan tiga buah taxi.
Dalam
perjalanan ternyata tidak di sangka memakan waktu yang sedikit lama, kurang
lebih empat puluh lima menit sampai tujuan.
Sesampainya
di gerbang Villa yang sudah di sediakan dari sekolah, mereka turun dan sedikit
takjub akan keadaan Villa yang begitu luas, sangat luas. Saat mereka masuk
mereka di suguhkan kanan-kiri sebuah taman asri, banyak rumput yang sekiranya
di potong indah dan pot bunga lainnya.
Untuk sampai
di pintu utama mereka harus mengitari air pancuran yang berada di tengah lalu
sampai di depan gerbang. Yamada yang membawa kunci Villa lalu membukanya reaksi
dari mereka hanyalah cengo akan suasana Villa yang akan mereka huni.
“Serasa di
Kerajaan.” Ujar Daiki.
“Seperti
Keluarga kerajaan saja.” Sambung Hikaru.
“Mimpi
kalian.” Jawab Yuto singkat se-singkat-singkatnya.
Lalu mereka
mulai masuk dan tidak terlalu jauh terdapat banyak sofa dengan di hadapannya
sebuah TV besar dan meja yang juga lumayan besar.
“Ini sekolah
buat sendiri atau menyewa ?.” Tanya Yamada yang juga sangat takjub melihatnya.
Setelah
sepenuhnya nyawa mereka terkumpul dan sudah selesai memandangi yang ada mereka
lalu menaiki tangga dekat dengan pintu utama, tangga itu seperti membentuk
setengah lingkaran hingga sampai pada ruang yang berisi kamar berhadapan.
Lalu mereka
mulai menuju kamar, membuka kunci yang sudah beliau berikan yang memang sudah
di bagi daripada berebutan. Kamar mereka lumayan luas untuk ukuran anak pecinta
musik seperti Inoo.
“Wuh, ada
keyboard disini.” Uja Inoo terkejut melihat kamarnya yang ternyata terdapat
keyboard.
“Aku ada
gitar.” Ujar Hikaru.
“Aku juga.”
Sambung Keito.
“Sebenarnya
kita sedang pergi ke luar negeri untuk belajar atau liburan, sih ?.” Tanya
Daiki bingung yang sedang berjalan mondar-mandir di luar melihat kamar
teman-temannya satu per satu.
“Anggap saja
sekolah luar negeri serasa liburan.” Jawab Yuto.
“WOAHH..!!
DISINI ADA KOLAM RENANG..!!.” Teriak seseorang dari lantai bawah halaman
belakang yang sukses membuat teman-temannya lari cepat menuju ke bawah untuk
mengobati rasa penasaran mereka.
“Bisakah kau
hilangkan keidiotanmu ?.” Tanya Yamada menghampiri Daiki yang sedikit kesal karena Daiki
teriak-teriak dari bawah hanya kolam renang yang besar.
“Aku mau
mandi dulu, besok harus bersiap-siap ke sekolah baru.” Ujar Inoo merasa lelah
akan perjalanan 3 jam lebih mereka.
“Aku juga.”
Sambung Yabu.
Lalu mereka
semua juga mengikuti dan istirahat di kamar masing-masing.
Lalu mereka
bangun pada sore hari, hebat. Dan salah satu yang bangun awal dari yang lainnya
adalah Chinen.
“Hm..
Lapar..” Gumamnya, lalu ia turun dan menuju dapur yang tepat di belakang ruang
tengah.
Mengingat
tidak ada bahan-bahan untuk memasak, Chii melihat beberapa sebungkus roti tawar
dan beberapa selai untuk cemilan, lalu ia mulai memakan seadanya. Di
tengah-tengah makan, Yamada datang dengan muka kusutnya.
“Apa kau
tidak cuci muka ?. Bangun-bangun sudah ke dapur.” Tanya Chii geli melihat wajah
Yamada.
“Belum, aku
cuci muka di dapur saja, bertepatan ada kau.” Jawabnya enteng.
“Sepertinya
malam ini kita harus ke pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan makanan di
Villa.” Usul Chinen yang di jawab anggukan Yama.
Chinen mengeluarkan tas kresek yang berisi roti untuk mengganjal perut saat lapar untuk sementara waktu. Kere memang.
“Hanya roti
?.” Tanya Yamada bingung.
“Menurutmu
?.” Tanya Chinen balik.
“Kukira ada
masakan enak di Villa yang mewah ini.” Jawab Yamada dengan santainya.
“Kalau ada
makanan, sudah kumakan daritadi.” Sambung Chii.
“Mungkin
saja kau rakus memakan semuanya dengan cepat.” Jawab Yamada tidak mau kalah.
“Cih,”
Malam
harinya, hanya Chinen, Yamada, Keito, dan Inoo yang pergi ke pusat perbelanjaan
untuk membeli makanan dan alat-alat di Villa yang belum ada, beliau sudah
menitipkan beberapa uang untuk keperluan seperti ini. Kenapa hanya mereka
berempat, karena hanya mereka yang fasih berbahasa Inggris dan yang lainnya
jaga Villa atau persiapan buat besok.
Mereka
pulang sedikit larut karena bingung harus membeli bahan-bahan apa saja, untung
mereka bersama Keito yang sedikit berpengalaman, dan untungnya lagi mereka
sudah persiapan kilat untuk besok sehingga sampai rumah mereka tinggal
istirahat dengan nyaman.
“Kalian
tahu, kita memesan pizza delivery order gara-gara kalian kelamaan membeli
bahan-bahan. Kita sampai buka google
translate dan kamus yang sudah dibawa.” Protes Yuya melihat mereka berempat
datang sedikit larut.
“Beli apa
saja ?, jangan boros, deh, belanja saja tiga setengah jam.” Protes Yuto juga.
“Gomen nee,
kami juga bingung memilih bahan-bahan apa saja untuk keperluan sehari-hari,
karena ini bukan di Jepang.” Jawab Yamada sedikit kasihan melihat mereka duduk
di sofa dengan memesan dua buah box pizza yang dilihat dari kejauhan sudah
habis.
“Yah,
terserah, tapi gomen, pizzanya sudah habis.” Ujar Yuya.
“Tak apa,
kami sudah makan yang sederhana di luar.” Jawab Chinen.
Keesokan
harinya, mereka sudah siap-siap untuk ke sekolah baru mereka. Mereka satu sekolah
agar mudah berkomunikasi dan belajar apa yang diajar.
Mereka ke
sekolah tidak terlalu jauh, jika jalan dalam keadaan sepi dan lancer hanya
memakan waktu sepuluh menit. Sesampainya di sekolah yang terkenal dengan
murid-muridnya yang cantik dan tampan dan juga sangat pintar, pusat sekolah
yang berada di London.
Mereka turun
dari bus, ya, mereka naik bus sekolah saja yang dikiranya lebih hemat biaya
daripada taxi, sudah disambut dengan seluruh anak perempuan yang berhenti
berjalan dan cengo dan juga berbisik satu sama lain melihat kesembilan cowok
itu.
“Are they transfer student ?.”
“I think so.”
“Are they from England ?, I don’t
think so.”
Baru masuk
sudah populer, luar negeri, dalam negeri sama aja.
Tapi,
diantara ribuan siswi disana salah satu dari mereka ada yang sedikit kenal
dengan mereka bersembilan.
Mereka
bukannya tidak peduli dengan cewek-cewek sekitar hanya saja mereka bingung
tatapan mereka dan baru saja masuk di suguhi seperti itu, lalu mereka pergi ke
ruang kepala sekolah. Mereka yang tidak terlalu bisa bahasa Inggris hanya
berharap sepenuhnya pads Yama, Inoo, Keito, dan Chii.
Sesampainya
di ruang kepala sekolah mereka duduk dengan canggung apalagi yang tidak terlalu
bisa bahasa Inggris.
“Ohayou,
dear.” Jawab beliau, kepala sekolah.
Dan mereka di
buat bingung oleh beliau.
“Ah, tentu
Otousan sedikit lancer bahasa di Negara kalian. Jaa, akan ku sebutkan kelas
kalian, Otousan sekali lagi minta maaf kalian berada di kelas yang berbeda
mungkin ada yang satu kelas,” Terang beliau dengan menggunakan bahasa Jepang.
“Yabu
Kouta.”
“Hai,”
“Kau di
kelas 2-2.”
“Arigatou,
sensei.”
“Kei Inoo.”
“Hai.”
“Kau paling
pintar diantara yang lainnya, kau masuk 2-1.”
“Thanks you,
mister.”
Lalu mereka
semua memandang Inoo yang memakai bahasa Inggris.
“Kau
sepertinya fasih berbahasa Inggris, nak ?.” Tanya beliau.
“Ah, not
all, mister.” Jawabnya.
“Yuri Chinen
dan Yuto Nakajima.”
“Hai.” Jawab
mereka bersama.
“Kalian
masuk 2-5.”
“Arigatou,
senpai.”
“Ryosuke
Yamada, Okamoto Keito, Yaotome Hikaru.”
“Hai.” Jawab
mereka bersama.
“Kalian di
ruang 2-7.”
“Arigatou,
senpai.”
“Yuya Takaki
dan Daiki Arioka.”
“Hai.” Jawab
mereka bersama.
“Kalian di
ruang 2-3.”
“Arigatou,
sensei.” Jawab merek bersama.
“Nah, wali
kelas kalian sudah tahu, sekarang, ku panggilkan guru jam pelajaran pertama, ano,
untuk kelas 2-5 jam pelajaran kalian olahraga, apakah sudah membawa pakaian
ganti ?.” Tanya beliau dan di jawab anggukan mereka berdua.
“Chotto
matte, ku panggilkan guru kalian.” Ujar beliau berdiri dari duduknya dan pergi
ke ruang guru.
***
Yaaa Minna-san!, Arichan mau kasih info nih, spring time karya fanfiction pertamanya Arichan. Gomennn kalau ceritanya acak-acakan, gajelas, atau gimana ini Arichan langsung copast dari Wattpadnya Arichan, sebagian Arichan perbaiki karena ada kesalahan, maapkan Arichan kalau masih ada kesalahan T^T
Oh iya, Arichan Insyallah nih post setiap hari terutama malam minggu //ketahuanjoneslu\\ :'v Arichan kalau ngepostnya lama lebih dari seminggu berarti ceritanya di Wattpadnya Arichan juga lagi nggantung alias Arachan sibuk belum sempet buat ceritanya :'v soalnya bentar lagi Arichan bakal ngerjain UTS II nih.. Habis itu study tour.
Intinya aja, Arichan ngepost spring time dulu, lainnya nyusul, sebenernya masih ada satu konsep lagi tapi Arichan hapus gegara konfliknya rada anu //bletakkk. Arichan ngepost langsung dua chapter ya soalnya kalo satu chapter kependekan :v.
Sekian infonya nanti Arichan kasih info lagi :v pai pai~~
Happy Reading~
-Arichan-






