Kamis, 02 Maret 2017

SPRING TIME PART 2



CHAPTER 3 : PENERBANGAN MEMUAKKAN
***
Setibanya di Bandara lagi-lagi mereka terlalu awal, jam keberangkatan mulai pukul 07.00 AM sedangkan mereka tiba di bandara pukul 06.30AM.
"Apakah kita harus menunggu tiga puluh menit ?." Tanya Yuya yang paling tidak suka menunggu.
"Ano, ada yang kurang." Pikir Yamada, reflek semuanya menatap Yamada was-was.
"Jika kita sampai disana... Kita akan menginap dimana ?."
Ngek.
Yang lainnya pun berpikir dan mengingat perkataan Ibu Kepala Sekolah mereka dan Ibu Kepala Sekolah mereka tidak memberitahukan dimana mereka akan tinggal selama setahun.
Bayangkan saja, ada yang menepuk jidat, cengo, pandangan kosong, berpikir keras, mereka was-was seperti orang hilang.
"Moshi-moshi, Okaasan."
Semuanya pun menatap sumber suara dan ternyata di dapati Chinen menelpon Ibu Kepala Sekolah.
"Ah, Chinen, gomen ne Okaasan lupa memberitahukan kalian akan menginap dimana. Okaasan beritahu, kalian akan menginap di Park Villa tidak jauh dengan Universitas Harvard, Okaasan yakin salah satu dari kalian tahu, tiketnya jangan lupa, ya, semoga selamat sampai tujuan!."
Tuttt...
"Chii-san, kau dapat nomor kepala sekolah darimana ?." Tanya Inoo.
"Apa katanya ?." Tanya Yamada.
"Kita akan menginap di Park Villa, katanya salah satu dari ki—"
Belum juga Chinen selesai melanjutkan kata-katanya Keito sedikit berteriak dengan antusias.
"Nani ?!, Park Villa ?!, kau serius ?!." Tanya Keito yang sedikit meninggikan suaranya, memang bandara sedikit ramai, untung saja di sekitar mereka tidak banyak orang yang lewat.
"Kau tahu ?." Tanya Chinen.
"Tentu. Hanya orang konglomerat kelas atas yang mampu membayar uang sewanya." Jawab Keito sangat antusias.
"Kita berhutang budi banyak pada sekolah." Chinen sedikit merenung.
"Sepertinya kau pengalaman sekali pergi ke luar negeri terutama London ?." Selidik Yuto yang berada di samping Keito.
"Ya, sudah dua—"
"Baik. Kau pandu kami, kau yang di depan, dan kau yang akan berbicara bahasa Inggris untuk kita." Potong Yamada santai dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
"He?!, nani ?!, chotto matte.." Keito sedikit terkejut dan bingung melihat semua temannya sangat santai menunggu jam penerbangan seakan mereka sudah punya pemandu wisata yang sangat handal dan tidak akan cemas akan kemana-mana.
"Kau tahu kan pelajaran Inggrisku mendapat berapa ?, jadi, bantu kami." Ujar Yuya yang hanya melirik Keito.
"Yah, terserah kalian, aku bisa meninggalkan kalian diam-diam dan pergi ke Hotel sendirian." Jawab Keito santai tidak mau kalah. Dan mereka semua menatap Keito dengan pandangan 'jangan coba-coba'.
"Jam penerbangan pukul tujuh dengan tujuan -------- akan tiba, penumpang di harapkan mempersiapkan diri."
Terdengar bunyi megaphone dari seluruh bandara, dan mereka bersembilan lalu bersiap-siap.
"Kita satu kabin, bukan ?. Siapa yang sebangku denganku ?, aku nomor sembilan." Tanya Keito.
"Kau denganku, aku nomor sepuluh." Ujar Yuto.
"Aku lima. Siapa enam ?." Tanya Yabu.
"Aku enam." Jawab Inoo cepat.
"Ah, Ryo-chan, kau delapan rupanya, kau berarti denganku, aku tujuh." Ujar Hikaru dengan merangkul pundak Yamada.
"Ah, iya."
"Yeah, bung, kita satu bangku." Ujar Daiki seraya mengajak Yuya seperti tos tangan. Bayangkan saja Daiki yang kecil satu bangku dengan kacang panjang.
"Chinen, berarti kau sendirian ?." Tanya Yamada sedikit kasihan dengan teman dekatnya itu.
"Tak apa, yang penting selamat sampai tujuan." Jawab Chinen seraya merapikan barang-barangnya tanpa melihat Yamada.
"Dia kenapa, sih ?." Tanya Hikaru berbisik kepada Yamada dan hanya dijawab gelengan kepala.
"Dia tidak sedang sakit, kan ?." Tanya Inoo juga sedikit berbisik ke Yabu.
"Mungkin butuh belaian." Jawab Yabu santai dan mendapat getokan kepala dari Inoo.
"Chotto, tapi kita tetap satu kabin, bukan ?." Tanya Keito yang sedikit ragu mereka akan pisah kabin walau kebetulan nomor mereka pas.
"Tentu tidak, sayang, sudahlah, ayo kita naik." Jawab Yuya yang sedikit jengkel daritadi Keito gelisah hanya menanyakan kabin. Lalu mereka mulai menyimpan barang-barang mereka ke(mana dah author nggak tau -_- yang kek escalator gitu di cek satu-satu(?)). Lalu mereka mencari kabin yang sesuai dan duduk sesuai nomor.
Saat penerbangan mulai berjalan, baru saja pesawat melintas ke udara, salah satu dari mereka mabuk udara.
"Tidur saja, Dai-chan, jika kau ingin memesan makanan akan ku pesankan pada pramugari." Usul Yuya dan hanya di jawab anggukan kepala.
Yamada yang mengetahui Chinen duduk sebangku dengan seorang perempuan yang sebaya dengannya mulai berbisik pada Hikaru dan menyalur pada Yabu dilanjut Inoo hingga titik terakhir, Daiki yang tertidur. Terlihat Chinen mulai sedikit berbicara pada sebelahnya agar tidak merasakan kecanggungan selama penerbangan.
"Ah, ano, boleh kenalan ?." Tanya seorang perempuan di sebelah Chinen.
"Ah, tentu." Jawab Chinen santai.
"Watashi wa Rowenna Goldstein, yoroshiku."
"Chinen Yuri, yoroshiku."
Lalu mereka mulai berjabat tangan untuk pertama kalinya.
"Kulihat kau bukan orang Jepang, ya ?, dari namamu." Tanya Chinen.
"Bukan. Aku berasal dari Inggris, tapi kebetulan sedang liburan jadi aku pergi ke Jepang untuk pertama kalinya." Jawab perempuan itu yang dikiranya bernama Rowenna menatap senyum ke arah Chinen, dan Chinen hanya sedikit salah tingkah, dia manis sekali.
"Sendirian ?." Tanya Chii.
"Iya, sebenarnya aku dengan kakakku tetapi kakakku sedang di rawat di Rumah Sakit jadinya aku berangkat sendiri, sayang sekali, kan kalau aku juga tidak ikut, sebenarnya bangku yang kamu duduki itu untuk kakakku tapi ku batalkan ternyata kau yang mendapatkannya." Jawab Rowenna dengan ramah.
"Ah.. Ya.. Sepertinya kau ada kesalahan berbahasa Jepang, saat kau berbicara tadi." Jawab Chinen.
"Seriously ?, sorry, I will speak with my country language." Jawab Rowenna yang sedikit salah tingkah mengingat ia tidak sepenuhnya bisa berbahsa Jepang.
"Ah, no problem, kau sudah termasuk pandai dalam berbicara seperti itu pada orang Jepang asli." Ujar Chinen ditambah dengan senyuman, tunggu, sejak dari tadi pagi dia selalu memasang muka dingin, ada apa ini ?.
"Kau ternyata bisa berbahasa Inggris." Sambung Rowenna.
"Tidak juga, Rowenna."
"Ah, sepertinya namaku terlalu panjang, panggil saja Enna, seperti adikku memanggilku." Ujar Rowenna lagi-lagi menyunggingkan senyumannya.
"Ehem.. Ohokkk... Hikaru-san, kau membawa minum ?, ah tentu saja tidak, tolong pesankan aku minuman."
"Oke oke tenang dulu Ryo-chan" Jawab Hikaru lalu memesankan minuman.
Terdengar suara batuk yang dibuat-dibuat dari seberang tempat duduk Chinen dan ternyata Yamada yang berpura-pura batuk untuk memancing temannya itu.
"Mereka gila." Ujar Yabu dengan menyilakan tangannya di depan dada melihat drama gratis di depannya, bangkunya dengan Inoo berada di belakang bangku Yama dan Hikka dan berada di sebelah kanan.
"Aku tidak ikut-ikuttan." Sambung Inoo yang melihat kota dari bawah dan dari jendela dengan gumpalan awan yang ada.
"Uhuyy.. Drama gratis." Ujar Keito dengan kedua tangannya menyila ke belakang menyangga kepalanya dan menatap kursi di depannya.
"Berisik, lagi makan, nih." Sambung Yuya yang sangat tidak peduli ada drama atau film komedi atau sirkus di depannya, dia hanya konsentrasi pada makanan.
"Ahh~ seperti di film-film." Sambung Yuto dengan kepalanya di sangga pada telapak tangan kanannya menatap kemana saja asal tidak menatap tempat duduk Chinen dengan seorang perempuan di sebelahnya.
Chinen yang mendengar ocehan teman-temannya sedikit risih akan suasana sekarang.
"Mereka teman-temanmu ?." Tanya Rowenna yang menyadari jika mereka teman-teman Chinen.
"Bukan, mereka orang gila yang hanya syirik pada keadaan." Jawab Chinen santai lalu mulai memesan makanan seperti halnya Yuya. Dan teman-teman Chinen yang di kata seperti itu hanya melirik sinis dan mulai mengeyahkan apa yang Chinen dan Rowenna lakukan.
"Kau tidak memesan makanan ?." Tanya Chinen yang sudah disuguhkan beberapa dessert yang ia pesan.
"Ah, iya, aku juga pesankan aku sama seperti dia." Jawab Rowenna.
"Kenapa ?." Tanya Chinen.
"Yang penting makan." Jawab Rowenna, lalu mereka berdua tersenyum bersama.
"Yaelah, bung, tadi sama kita memasang muka dingin, uhh seperti suhu pagi hari ini..." Ujar Yamada yang juga sudah berkutat pada makanan.
"Setelah ketemu yang ehem.." Lanjut Hikaru.
"Eh, sumringah, bahagia sekali, ya." Lanjut Keito.
"Urusai." Celetuk Chinen, lalu di dapati mereka semua cekikian menahan tawa termasuk Yabu dan Inoo yang tidak ikut-ikuttan.

***
CHAPTER 4  : WELCOME TO LONDON


Dalam perjalanan, mereka sudah mabuk kepayah dan setelah makan mereka mulai tidur untuk menghilangkan rasa mabuk yang ada, di saat semua sedang tidur hanya Daiki lah yang terbangun.

“Yah.. Aku tidur, mereka bangun, aku bangun, mereka tidur, ini kenapa, sih ?.” Ujar Daiki yang sedikit berdiri untuk melihat teman-temannya yang sudah terlelap semuanya, namun, pandangan Daiki fokus pada kursi depannya.

“Chinen ?, siapa perempuan itu dengan santainya tidur di bahu Chii ?.” Gumam Daiki melihat Chii dan perempuan sebangkunya.

“Bodo ah, ano, sumimasen.. Boleh saya pesan sesuatu ?.”

Sesampainya di bandara tujuan saat mereka turun dari pesawat mereka sedikit merenggangkan badannya yang pegal-pegal akibat duduk terlalu lama di dalam pesawat. Chinen sudah berpamitan dengan teman sebangkunya yang katanya sudah di jemput oleh keluarganya.

“Chii-san, aku melihat sebelahmu dengan santainya tidur di bahumu, kau menegnalnya ?, siapa ?.” Tanya Daiki yang melihat Chinen menguap lebar dengan tidak sopannya.

“Hontou ?!, nee, Dai-chan seharusnya kau mengambil foto untuk itu dan menunjukkannya pada kami.” Ujar Yuya terkejut, bukan Yuya, tapi semuanya mendengar pertanyaan Daiki.

“Kau bodoh ?, sinting ?, atau apa ?, memangnya boleh menghidupkan barang elektronik di dalam pesawat ?.” Tanya Daiki sedikit kesal melihat kebodohan temannya itu.

“Ah, yah, souka.” Jawab Yuya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Dia perempuan, perempuan harus di hargai bahkan jika kau melihat seorang perempuan mengantuk dan ingin tidur tapi tidak nyaman apakah kau tidak menawarinya tidur di bahumu ?.” Tanya Chinen kembali, pedas.

“Ini anak daritadi pagi kenapa, sih ?.” Gumam Yabu pada Inoo yang hanya di tanggapi gelengan kepala.

“Jaa, ayo komandan!, kau yang depan!.” Ujar Yamada menepuk pundak Keito agar dia yang memimpin perjalanan menuju penginapan.

Lalu mereka mulai keluar dari bandara, daripada membuang-buang waktu dan biaya menaiki bus umum bolak-balik mereka memilih menaiki taxi agar cepat sampai tujuan. Lalu mereka memesan tiga buah taxi.

Dalam perjalanan ternyata tidak di sangka memakan waktu yang sedikit lama, kurang lebih empat puluh lima menit sampai tujuan.

Sesampainya di gerbang Villa yang sudah di sediakan dari sekolah, mereka turun dan sedikit takjub akan keadaan Villa yang begitu luas, sangat luas. Saat mereka masuk mereka di suguhkan kanan-kiri sebuah taman asri, banyak rumput yang sekiranya di potong indah dan pot bunga lainnya.

Untuk sampai di pintu utama mereka harus mengitari air pancuran yang berada di tengah lalu sampai di depan gerbang. Yamada yang membawa kunci Villa lalu membukanya reaksi dari mereka hanyalah cengo akan suasana Villa yang akan mereka huni.



“Serasa di Kerajaan.” Ujar Daiki.

“Seperti Keluarga kerajaan saja.” Sambung Hikaru.

“Mimpi kalian.” Jawab Yuto singkat se-singkat-singkatnya.

Lalu mereka mulai masuk dan tidak terlalu jauh terdapat banyak sofa dengan di hadapannya sebuah TV besar dan meja yang juga lumayan besar.

“Ini sekolah buat sendiri atau menyewa ?.” Tanya Yamada yang juga sangat takjub melihatnya.

Setelah sepenuhnya nyawa mereka terkumpul dan sudah selesai memandangi yang ada mereka lalu menaiki tangga dekat dengan pintu utama, tangga itu seperti membentuk setengah lingkaran hingga sampai pada ruang yang berisi kamar berhadapan.

Lalu mereka mulai menuju kamar, membuka kunci yang sudah beliau berikan yang memang sudah di bagi daripada berebutan. Kamar mereka lumayan luas untuk ukuran anak pecinta musik seperti Inoo.

“Wuh, ada keyboard disini.” Uja Inoo terkejut melihat kamarnya yang ternyata terdapat keyboard.

“Aku ada gitar.” Ujar Hikaru.

“Aku juga.” Sambung Keito.

“Sebenarnya kita sedang pergi ke luar negeri untuk belajar atau liburan, sih ?.” Tanya Daiki bingung yang sedang berjalan mondar-mandir di luar melihat kamar teman-temannya satu per satu.

“Anggap saja sekolah luar negeri serasa liburan.” Jawab Yuto.

“WOAHH..!! DISINI ADA KOLAM RENANG..!!.” Teriak seseorang dari lantai bawah halaman belakang yang sukses membuat teman-temannya lari cepat menuju ke bawah untuk mengobati rasa penasaran mereka.

“Bisakah kau hilangkan keidiotanmu ?.” Tanya Yamada menghampiri Daiki yang sedikit kesal karena Daiki teriak-teriak dari bawah hanya kolam renang yang besar.

“Aku mau mandi dulu, besok harus bersiap-siap ke sekolah baru.” Ujar Inoo merasa lelah akan perjalanan 3 jam lebih mereka.

“Aku juga.” Sambung Yabu.

Lalu mereka semua juga mengikuti dan istirahat di kamar masing-masing.

Lalu mereka bangun pada sore hari, hebat. Dan salah satu yang bangun awal dari yang lainnya adalah Chinen.

“Hm.. Lapar..” Gumamnya, lalu ia turun dan menuju dapur yang tepat di belakang ruang tengah.

Mengingat tidak ada bahan-bahan untuk memasak, Chii melihat beberapa sebungkus roti tawar dan beberapa selai untuk cemilan, lalu ia mulai memakan seadanya. Di tengah-tengah makan, Yamada datang dengan muka kusutnya.

“Apa kau tidak cuci muka ?. Bangun-bangun sudah ke dapur.” Tanya Chii geli melihat wajah Yamada.

“Belum, aku cuci muka di dapur saja, bertepatan ada kau.” Jawabnya enteng.

“Sepertinya malam ini kita harus ke pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan makanan di Villa.” Usul Chinen yang di jawab anggukan Yama.

Chinen mengeluarkan tas kresek yang berisi roti untuk mengganjal perut saat lapar untuk sementara waktu. Kere memang.

“Hanya roti ?.” Tanya Yamada bingung.

“Menurutmu ?.” Tanya Chinen balik.

“Kukira ada masakan enak di Villa yang mewah ini.” Jawab Yamada dengan santainya.

“Kalau ada makanan, sudah kumakan daritadi.” Sambung Chii.

“Mungkin saja kau rakus memakan semuanya dengan cepat.” Jawab Yamada tidak mau kalah.

“Cih,”

Malam harinya, hanya Chinen, Yamada, Keito, dan Inoo yang pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli makanan dan alat-alat di Villa yang belum ada, beliau sudah menitipkan beberapa uang untuk keperluan seperti ini. Kenapa hanya mereka berempat, karena hanya mereka yang fasih berbahasa Inggris dan yang lainnya jaga Villa atau persiapan buat besok.

Mereka pulang sedikit larut karena bingung harus membeli bahan-bahan apa saja, untung mereka bersama Keito yang sedikit berpengalaman, dan untungnya lagi mereka sudah persiapan kilat untuk besok sehingga sampai rumah mereka tinggal istirahat dengan nyaman.

“Kalian tahu, kita memesan pizza delivery order gara-gara kalian kelamaan membeli bahan-bahan. Kita sampai buka google translate dan kamus yang sudah dibawa.” Protes Yuya melihat mereka berempat datang sedikit larut.

“Beli apa saja ?, jangan boros, deh, belanja saja tiga setengah jam.” Protes Yuto juga.
“Gomen nee, kami juga bingung memilih bahan-bahan apa saja untuk keperluan sehari-hari, karena ini bukan di Jepang.” Jawab Yamada sedikit kasihan melihat mereka duduk di sofa dengan memesan dua buah box pizza yang dilihat dari kejauhan sudah habis.

“Yah, terserah, tapi gomen, pizzanya sudah habis.” Ujar Yuya.
“Tak apa, kami sudah makan yang sederhana di luar.” Jawab Chinen.
Keesokan harinya, mereka sudah siap-siap untuk ke sekolah baru mereka. Mereka satu sekolah agar mudah berkomunikasi dan belajar apa yang diajar.

Mereka ke sekolah tidak terlalu jauh, jika jalan dalam keadaan sepi dan lancer hanya memakan waktu sepuluh menit. Sesampainya di sekolah yang terkenal dengan murid-muridnya yang cantik dan tampan dan juga sangat pintar, pusat sekolah yang berada di London.

Mereka turun dari bus, ya, mereka naik bus sekolah saja yang dikiranya lebih hemat biaya daripada taxi, sudah disambut dengan seluruh anak perempuan yang berhenti berjalan dan cengo dan juga berbisik satu sama lain melihat kesembilan cowok itu.

“Are they transfer student ?.”

“I think so.”

“Are they from England ?, I don’t think so.”

Baru masuk sudah populer, luar negeri, dalam negeri sama aja.

Tapi, diantara ribuan siswi disana salah satu dari mereka ada yang sedikit kenal dengan mereka bersembilan.

Mereka bukannya tidak peduli dengan cewek-cewek sekitar hanya saja mereka bingung tatapan mereka dan baru saja masuk di suguhi seperti itu, lalu mereka pergi ke ruang kepala sekolah. Mereka yang tidak terlalu bisa bahasa Inggris hanya berharap sepenuhnya pads Yama, Inoo, Keito, dan Chii.

Sesampainya di ruang kepala sekolah mereka duduk dengan canggung apalagi yang tidak terlalu bisa bahasa Inggris.

“Ohayou, dear.” Jawab beliau, kepala sekolah.

Dan mereka di buat bingung oleh beliau.

“Ah, tentu Otousan sedikit lancer bahasa di Negara kalian. Jaa, akan ku sebutkan kelas kalian, Otousan sekali lagi minta maaf kalian berada di kelas yang berbeda mungkin ada yang satu kelas,” Terang beliau dengan menggunakan bahasa Jepang.

“Yabu Kouta.”

“Hai,”

“Kau di kelas 2-2.”

“Arigatou, sensei.”

“Kei Inoo.”

“Hai.”

“Kau paling pintar diantara yang lainnya, kau masuk 2-1.”

“Thanks you, mister.”

Lalu mereka semua memandang Inoo yang memakai bahasa Inggris.

“Kau sepertinya fasih berbahasa Inggris, nak ?.” Tanya beliau.

“Ah, not all, mister.” Jawabnya.

“Yuri Chinen dan Yuto Nakajima.”

“Hai.” Jawab mereka bersama.

“Kalian masuk 2-5.”

“Arigatou, senpai.”

“Ryosuke Yamada, Okamoto Keito, Yaotome Hikaru.”

“Hai.” Jawab mereka bersama.

“Kalian di ruang 2-7.”

“Arigatou, senpai.”

“Yuya Takaki dan Daiki Arioka.”

“Hai.” Jawab mereka bersama.

“Kalian di ruang 2-3.”

“Arigatou, sensei.” Jawab merek bersama.

“Nah, wali kelas kalian sudah tahu, sekarang, ku panggilkan guru jam pelajaran pertama, ano, untuk kelas 2-5 jam pelajaran kalian olahraga, apakah sudah membawa pakaian ganti ?.” Tanya beliau dan di jawab anggukan mereka berdua.

“Chotto matte, ku panggilkan guru kalian.” Ujar beliau berdiri dari duduknya dan pergi ke ruang guru.

***


Yaaa Minna-san!, Arichan mau kasih info nih, spring time karya fanfiction pertamanya Arichan. Gomennn kalau ceritanya acak-acakan, gajelas, atau gimana ini Arichan langsung copast dari Wattpadnya Arichan, sebagian Arichan perbaiki karena ada kesalahan, maapkan Arichan kalau masih ada kesalahan T^T

Oh iya, Arichan Insyallah nih post setiap hari terutama malam minggu //ketahuanjoneslu\\ :'v Arichan kalau ngepostnya lama lebih dari seminggu berarti ceritanya di Wattpadnya Arichan juga lagi nggantung alias Arachan sibuk belum sempet buat ceritanya :'v soalnya bentar lagi Arichan bakal ngerjain UTS II nih.. Habis itu study tour.

Intinya aja, Arichan ngepost spring time dulu, lainnya nyusul, sebenernya masih ada satu konsep lagi tapi Arichan hapus gegara konfliknya rada anu //bletakkk. Arichan ngepost langsung dua chapter ya soalnya kalo satu chapter kependekan :v.

Sekian infonya nanti Arichan kasih info lagi :v pai pai~~
Happy Reading~

-Arichan-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar